'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Berita
Bergerak Dalam Senyap, 48 Tahun ‘Aisyiyah Cerahkan Lapas Wanita Malang
26 Desember 2019 10:17 WIB | dibaca 233

 

Malang, Suara ‘Aisyiyah-Hari Ibu yang diperingati setiap tanggal 22 Desember merupakan momentum  bagi segenap aktivis perempuan  sebagai momen  muhasabah, sejauh mana  peran dan kiprah  gerakan perempuan dalam tercapainya pembangunan bangsa  Indonesia.

Berdasarkan sejarah  ditetapkannya Hari  Ibu  oleh Presiden RI  pertama, Ir  Soekarno  tanggal 22 Desember 1928  tepat saat perhelatan kongres wanita pertama di Yogyakarta, menunjukkan betapa sangat penting peran dari para perempuan dalam membantu tercapainya pembangunan nasional, yaitu untuk mensejahterakan rakyat Indonesia.

Dalam hal ini ‘Aisyiyah sebagai organisasi  perempuan Muhammadiyah, dimana pada saat itu merupakan satu –satunya organisasi perempuan modern telah menunjukkan peran besarnya dalam menggagas dan mensukseskan kongres tersebut melalui dua kader ‘Aisyiyah Siti Hajjinah dan Siti Munjiyah. Hal tersebut  disampaikan Ketua Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) kota Malang, Sri Herawati pada peringatan  hari ibu  bersama  santriwati pesantren An Nisa yang notabene warga binaan lapas wanita kelas IIA  di Jl Kebonsari Sukun kota Malang, Senin  (23/12/19)

Pada kesempatan tersebut Hera, panggilan karib Sri Herawati telah memperkenalkan ‘Aisyiyah  dan gerakannya di wilayah Malang.  Awal tahun 1970 Gerakan Melek Huruf yang digagas ‘Aisyiyah untuk kaum perempuan telah berhasil membangkitkan semangat  nasionalisme juga membentuk kepribadian bangsa untuk cinta  pada agama  dan bangsa, dan  seiring dengan perkembangan jaman gerakan tersebut saat ini diarahkan untuk melek moralitas dan keadaban.

“Sejak tahun 1971 ‘Aisyiyah kota Malang sudah memberikan pembinaan spiritual pada warga lapas, mulai belajar shalat, mengaji dari huruf-huruf hijaiyah hingga bisa lancar membaca al-Qur’an dengan tepat dan benar juga belajar doa-doa shalat serta doa sehari-hari, alhamdulillah semua bisa kita laksanakan dengan istiqamah bersama guru-guru ngaji yang luar biasa ,”tuturnya.

Menurut perempuan asli Malang itu, era kepemimpinannya dan satu periode di atasnya, yaitu era kepemimpinan  Rukmini Amar merupakan generasi ke-3 dalam pengabdian pada lapas wanita kota Malang. Sementara itu Kepala lapas wanita kelas IIA, Ika Yusanti, sangat senang  dan bangga dengan agenda yang dilaksanakan dalam kemasan yang berbeda  oleh ‘Aisyiyah yang sudah berkhidmat untuk mencerahkan warga lapas selama 48 tahun, “Saya sangat senang sekali dengan acara yang sangat berbeda dengan biasanya ini, dan kebetulan juga usia saya sama dengan lamanya ‘Aisyiyah bersinergi  dengan lembaga yang saya pimpin saat ini, 48 tahun silam saat ‘Aisyiyah mulai memberi pembinaan pada warga binaan mungkin saat itu bersamaan saya lahir atau menjelang kelahiran ,”ujar Ika  sembari tersenyum.

Ika mengucapkan terimakasih pada ‘Aisyiyah yang telah memberi inspirasi, “Ini acara yang tidak seperti biasanya, sangat berbeda. Biasanya setiap ada acara  saya hanya memb eri sambutan di podium, tapi ini tidak, saya duduk disini untuk memberi materi seperti di kampus –kampus Perguruan Tinggi. Ini sangat pas sekali,  benar bahwa lapas ini adalah kampus bagi santriwati , agenda keilmuan seperti ini baru pertama kali  dan ini sangat menginspirasi  saya,” sambung Ika.

Menurutnya visi dan misi ‘Aisyiyah sejalan dan seirama dengan lapas; untuk mensejahterkan perempuan dan anak serta memajukan pembangunan  perempuan guna membentuk karakter para santriwati. Oleh karena itu semua santri An nisa  harus bisa memulai  hidup lebih tertib dan senantiasa semangat serta ikhlas dalam melalui setiap proses belajar , “Peran Aisyiyah  bagi kemajuan para santri di sini  sudah tidak diragukan lagi,” tandasnya.

Dia juga menjelaskan, pada dasarnya adanya warga binaan itu karena adanya pelanggaran hukum, maka untuk menjadikan pribadi –pribadi yang lebih baik lagi  harus mondok  dulu di lapas, supaya tercapai  3 target ;menyadari kesalahannya, bertekad untuk tidak mengulangi kesalahannya dan turut  berperan dalam membangun bangsa. Kemudian untuk mencapai target bergantung pada tiga pilar; warga binaan, petugas lapas dan masyarakat seperti  ‘Aisyiyah. Perempuan berparas cantik itu juga  mengatakan, ada  4 karakter  santri; theocentric, dimana semua berproses dari Allah, karater sukarela dalam mengabdi  atau  ikhlas,  karakter kearifan,  karakter  kesederhanaan dan kemandirian.  

Diakhir acara Rukmini Amar, wakil ketua Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah  Jawa Timur mengingatkan pada semua ibu akan tanggung jawab yang sangat mulia, dia mengatakan, “Seoarang ibu itu kewajibannya tidak hanya mengandung  bayi, seorang ibu itu tidak hanya sekedar melahirkan, seorang ibu itu tidak hanya menyusui dan melengkapi semua kebutuhan hidup anak, akan tetapi seorang ibu itu harus bisa menunjukkan anak –anaknya dimana letak surga itu,” tegasnya. Dia juga berpesan agar  para ibu tidak lupa untuk senantiasa membaca surat al Ahqaf :15.

Peringatan hari Ibu ini juga dimeriahkan nasyid juga  paduan suara An-Nisa yang dipimpin Fransisca Daris. Selain membawakan dua lagu yang berjudul el-oum dan Alhamdulillah  dengan musik nasyid, paduan suara An Nisa ini berhasil membawakan lagu Indonesia Raya, Sang Surya dan Mars ‘Aisyiyah dengan sangat apik dan merdu  yang membawa  rasa haru dan semua hadirin meneteskan air mata.

Daris menyampaikan paduan suara yang ia pimpin itu bisa menghafal  dua lagu kebanggaan ibu – ibu ‘Aisyiyah dalam waktu tiga hari  dengan bimbingan kalapas sendiri. Lantunan lagu  Sang Surya dan Mars ‘Aisyiyah  oleh warga binaan lapas wanita kelas IIA  ini  merupakan hadiah terbaik dan terindah bagi para ibu ‘Aisyiyah. (Uzlifah)    

Shared Post:
Arsip Berita
Berita Terbaru
Berita Terkomentari