'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Berita
Inilah 3 Pilar Perempuan Berkemajuan, No.2 'Aisyiyah Banget
24 Januari 2019 13:29 WIB | dibaca 610

 

Perempuan Berkemajuan merupakan tafsir ‘Aisyiyah atas langgam keislaman yang dipromosikan oleh Muhammadiyah sejak masa KH. Ahmad Dahlan, yakni Islam Berkemajuan. Mengutip peneliti A. Najib Burhani, Anggota LPPA PP ‘Aisyiyah Siti Syamsiatun menjelaskan bahwa Islam Berkemajuan memiliki tiga pilar yaitu rasionalisme, pragmatisme, dan vernakularisme. “Kader ‘Aisyiyah harus memahami dan mempraktikkan ketiga pilar tersebut,” kata Syamsiatun saat menjadi pembicara pada Diskusi Serial ‘Aisyiyah Center di Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, Kamis (24/1).

Perempuan Berkemajuan, baik secara individu maupun organisasi, menggunakan rasionalisme atau penalaran dalam memahami ajaran Islam. Namun menurut Syamsiatun, rasionalisme yang dianut oleh ‘Aisyiyah bukan rasionalisme yang menggunakan akal saja, melainkan ditambah dengan rasa. Dalam pandangan KH. Ahmad Dahlan, rasionalisme yang menggabungkan akal dengan fuad atau qalbu. “Istilah Jawanya, penggalih, yakni berpikir dengan akal dan hati,” jelas Syamsiatun yang juga Direktur Indonesian Consortium for Religous Studies (ICRS) UIN-UGM-USD itu.

Pilar kedua Islam Berkemajuan yang harus dipahami dan diaplikasikan kader ‘Aisyiyah adalah pragmatisme. Pragmatisme beragama berarti agama tidak boleh selesai di ranah kognitif, tetapi harus diamalkan dalam ranah praksis. Islam harus memiliki fungsi dalam kehidupan sosial. “KH. Ahmad Dahlan pernah berkata bahwa ilmu yang baik adalah ilmu yang ada buahnya,”.

Tidak kalah penting dari kedua pilar sebelumnya adalah pilar vernakularisme. Vernakularisme adalah ide membumikan ajaran Islam dalam konteks lokal. Agar dakwah berjalan efektif, Islam dipraktikkan dengan cara yang sesuai dengan kebudayaan yang berkembang. Syamsiatun memandang ajaran ini dipraktikkan oleh KH. Ahmad Dahlan sejak dahulu misalnya melalui khutbah menggunakan bahasa Melayu dan Jawa, dan saat ini muslimah di Indonesia menutup aurat dengan jilbab namun gaya dan corak pakaiannya bernuansa lokal. “Kita tetap menjadi muslim yang baik, sekaligus menunjukkan identitas lokal kita,” kata Syamsiatun. (fikry)

Shared Post:
Arsip Berita
Berita Terbaru
Berita Terkomentari