'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Berita
Pendidikan 'Aisyiyah Abad Kedua
26 Januari 2019 12:00 WIB | dibaca 69

Sumber : Facebook SD 1 Aisyiyah Nganjuk

Satu abad berlalu, Aisyjyah telah menjelma menjadi raksasa bidang pendidikan. Dalam rentang seratus tahun tersebut, ‘Aisyiyah mengelola 15.918 Taman Kanak-kanak dan Pendidikan Usia Dini (TK/PAUD), 1.607 satuan PAUD sejenis, 72 Taman Asuh Anak (TAA). 1.579 Taman Pendidikan al-Qur’an (TPQ), 23 SD/MI, 12 SMP/Mts, 13 SMA/SMK/MA, 229 Madrasah Diniyah Awaliyah Putri, 3 Pesantren, dan 8 Perguruan Tinggi. Belum termasuk pendidikan non-formal yang berjumlah 4.280 lembaga dalam bentuk lembaga keaksaraan fungsional, taman baca masyarakat, pusat kegiatan masyarakat, sekolah berkebutuhan khusus, sekolah kesetaraan, dan sekolah ketrampilan.

Pada abad kedua, ribuan amal usaha pendidikan tersebut akan menghadapi tantangan serius. Dalam Tanfidz Keputusan Muktamar Aisyiyah 47 Satu Abad Aisyiyah dijabarkan beberapa tantangan tersebut. Pada sektor PAUD, yang selama ini menjadi trademark Aisyiyah, terdapat 6,5 juta anak usia 3-6 tahun belum terlayani pendidikan anak usia dini.

Selain tantangan kualitas dan aksesibilitas PAUD nasional, 'Aisyiyah juga dihadapkan pada kekerasan terhadap anak di sekolah, kesenjangan mengakses pendidikan antara perempuan dan laki-laki di mana perempuan memiliki angka yang lebih rendah, keterjangkauan biaya pendidikan, serta tantangan yang lebih mendasar yaitu kurangnya keterkaitan antara sistem pendidikan dengan pembentukan karakter.

Seratus tahun kedua juga menjadi babak baru bagi perkembangan pendidikan tinggi di 'Aisyiyah. Konversi Sekolah Tinggi Kesehatan (STIKes) 'Aisyiyah Yogyakarta menjadi universitas, menjadi batu pertama bagi pembangunan perguruan tinggi Aisyiyah lainya di Indonesia. Tantangan yang telah dicandra oleh Aisyiyah sektor pendidikan tinggi adalah rendahnya kesiapan perguruan tinggi Indonesia dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Visi Pendidikan Abad Kedua
Pokok Pikiran Aisyiyah Abad Kedua melahirkan tiga visi kondisi yang harus diwujudkan di abad kedua. Ketiganya adalah (1) berkembangnya paham Islam Berkemajuan, (2) berkembangnya gerakan pencerahan, dan (3) berkembangnya perempuan berkemajuan. Dari ketiga visi tersebut, Ketua PP Aisyiyah Masyitoh Chusnan menerjemahkannya ke dalam sektor pendidikan menjadi unggulnya kualitas pendidikan 'Aisyiyah. Setelah fokus pada pertumbuhan ribuan amal usaha pendidikan di abad pertama, ia mengatakarn saatnya di abad kedua fokus pada peningkatan kualitas seperti unsur manajemen. "Manajemen kelembagaan, pembelajaran, sumber daya manusia, dan sebagainya," tutur Guru Besar Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) ketika dihubungi Suara Aisyiyah.

Meskipun demikian, fokus pada pembenahan kualitas tidak menutup kemungkinan meningkatkan kuantitas. Apalagi jika penambahan itu merupakan permintaan masyarakat, maka harus dilakukan sebagai bagian dari pelayanan kepada masyarakat. "Misalnya menambah di daerah 3T (terdepan, terluar, dan ter- tinggal)," ujar Masyitoh menambahkan.

Visi pendidikan 'Aisyiyah tersebut sejalan dengan tujuan program nasional Aisyiyah 2015-2020 di bidang pendidikan. Program di bidang pendidikan bertujuan meningkatkan kualitas keunggulan pendidikan 'Aisyiyah sebagai strategi pembentukan manusia yang utuh, berilmu, dan berkarakter sesuai dengan tujuan pendidikan.

Visi menuju keunggulan kualitas mendapatkan satu tantangan lagi yang belum eksplisit dijabarkan 'Aisyiyah yakni perkembangan tekonologi informasi dan komunikasi (TIK). Meski demikian Masyitoh menyikapinya dengan tenang dan tidak menganggapnya sebagai ancaman. Justru ia melihatnya sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas amal usaha pendidikan Aisyiyah. "Sama dengan Muhamadiyah, kita fasilitasi amal usaha dengan teknologi." kata Masyitoh Chusnan.

Mantan rektor UMJ juga mengklaim Sudah ada beberapa TK/PAUD yang mulai memperkenalkan penggunaan TIK. Ia memandang, kemampuan menggunakan teknologi harus diperkenalkan sejak dini, asalkan sebelumnya telah didasari oleh penanaman nilai yang sangat kuat. "Kita tetap mengutamakan penguatan karakter. Ini menjadí ciri khas pendidikan di Aisyiyah kan penguatan karakter,” tegas Masyitoh.

Adanya penanaman nilai dan karakter, Masyitoh ingin menepis kekhawatiran akan efek negatif dari teknologi. la juga berpendapat bahwa kekhawatiran dapat semakin ditekan apabila orangtua dilibatkan dalam pengawasan di rumah.

Selain tantangan yang bersifat umum, terdapat tantangan yang lebih khusus dan kasusistik. Di level TK/PAUD, kehadiran sejumlah lembaga pendidikan anak usia dini yang mengusung brand Islam terpadu merupakan fenomena tersendiri yang perlu disikapi Aisyiyah. Sementara itu Masyitolh menyarankan tidak perlu disikapi dengan konfrontasi kehadiran lembaga sejenis. Menurutnya pendidikan anak usia dini Aisyiyah sejak awal sudah terpadu antara nilai keislaman, kebangsaan, dan kemuhammadiyahan. Dari sekian nilai karakter yang didefinisikan pemerintah, yang paling pokok dalam pendidikan karakter di 'Aisyiyal adalah nilai iman, ilmu, dan amal. "Itulah salah satu hasil rembuk nasional kemarin," terangnya.

Pada rembuk nasional yang digelar di Yogyakarta dibahas pengembangan karakter PAUD yang berbasis pada nilai agama, budaya, dan nilai universal, dalam merespon tantangan pendidikan karakter. Dibahas juga pada acara tersebut pengembangan PAUD yang aman dan berkeadilan.

Untuk Perguruan Tinggi Aisyiyah (PTA), spirit yang dibangun adalah bersama-sama Muhammadiyah melayani kebutuhan masyarakat akan pendidikan tinggi. Secara resmi memang tidak ada brand khusus yang dimiliki PTA, meski di sisi lain Masyitoh mengakui sejauh ini PTA fokus di ranah pendidikan tenaga kesehatan. Namun seiring konversi menjadi universitas, seperti Unisa Yogyakarta, program studi di luar kesehatan yang dibutuhkan masyarakat ikut dibuka. "Ya prinsipnya kita fastabiqul khoirot," ujarnya.

Pendidikan sebagai gerakan keilmuan
Salah satu agenda strategis yang digagas pada Pokok Pikiran 'Aisylyah Abad Kedua adalah pengembangan gerakan keilmuan. Selain memiliki landasan kuat pada ajaran Islam dan budaya Muhammadiyah, 'Aisyiyah memandang tradisi keilnuan masih kurang meluas dalam kehidupan umat dan masyarakat luas, termasuk di keluarga. Dalam dokumen tersebut juga dísjelaskan alasan 'Aisyiyah konsisten mengambil jalur pen- didikan. Pendidikan penting dan srateg melahirkan generasi yang cerdas dan berakhlak mulia sebagai fondasi peradaban. (fikry)

Shared Post:
Arsip Berita
Berita Terbaru
Berita Terkomentari