'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Berita
Penguatan Keluarga sebagai Fondasi Agenda Strategis 'Aisyiyah
26 Januari 2019 12:16 WIB | dibaca 33

  

sumber: http://www.balebandung.com

 

 

 

Dalam pokok pikiran ‘Aisyiyah abad kedua disebutkan bahwa memasuki abad kedua, ‘Aisyjyah meniscayakan dirinya untuk melakukan langkah-langkah gerakan dalam bentuk agenda-agenda strategis untuk mewujudkan visi Islam yang berkemajuan. Gerakan pencerahan, dan perempuan berkemajuan sebagai bagian penting dari aktualisasi misi dakwah dan tajdid menuju terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya membawa rahmat bagi semesta alam .

Salah satu agenda strategis 'Aisyiyah memasuki abad kedua adalah penguatan keluarga. Penguatan keluarga menjadi salah satu fondasi dalam membuat berbagai program dalam berbagai bidang dan majelis. Tak terkecuali MKS (Majelis Kesejahteraan Sosial), Majelis Ekonomi dan Ketenagakerjaan (MEK), dan Majelis Kesehatan.

Dalam MEK Latifah Iskandar menyebutkan bahwa urgensi bidang ekonomi diangkat menjadi fokus yang digarap ‘Aisyiyah adalah karena pada dasarnya prin- sip dakwah Aisyiyah adalah pemberdayaan, termasuk pemberdayaan ekonomi masyarakat. Hal ini penting supaya kondisi ekonomi masyarakat Indonesia tidak tertinggal, jauh dari kemiskinan, dan tidak ketergantungan pada produk import.

 Untuk menanggulanginya, pemberdayaan ekonomi pun dilakukan dengan basis penguatan keluarga. Pemberdayaan ekonomi berbasis keluarga dilakukan melalui kelompok BUEKA (Bina Usaha Ekonomi Keluarga Aisyiyah) yang terdiri dari kelompok BUEKA produksi, distribusi, dan pra koperasi. Latifah menjelaskan untuk menguatkan BUEKA, Majelis  Ekonomí dan Ketenagakerjaan membuat Sekolah Wirausaha ‘Aisyiyah (SWA) dan mendidik para kader untuk menjadi pengusaha handal. Selain keberadaan SWA, tersedia pula KUKA (Klinik Konsultasi Usaha Aisyiyah) yang menjadi konsultan dan pendamping jika pengusaha. “KUKA menjadi konsultan bagi para pengusaha jika mengalami kendala dalam bisnisnya. Apabila dalam menjalankan usaha mengalami kendala perlu pendampingan dan konsultasi akan  difasilitasi oleh KUKA yang datang kepada para anggota,” ujar Latifah.

 

Selain program berbasis penguatan keluarga, program lain yang digarap oleh 'Aisyiyah adalah penguatan koperasi  supaya menjadi tempat kerja yang profesional. Selain itu di bidang ketahanan, Latifah menambahkan akan memulainya dengan meminta para anggota dan kader untuk memanfaat lahan dan kampanye mengkonsumsi makanan-makanan non import. "Semua program di Majelis Ekonomi tentunya menyasar anggota-anggota Aisyiyah, diprioritaskan anggota yang masih muda dan menjadi pelaku usaha."

Latifah menambahkan bahwa dalam pelaksanaan program-program tersebut terkendala dua masalah utama yakni sumber daya manusia dan ketersediaan dana. la men- jelaskan sudah semestinya program-program itu memerlukan pendamping yang memiliki kapasitas, perlu dilatih, dan diberi fasilitas yang memudahkan untuk bisa mobile di lapangan.

Latifah membenarkan bahwa memang pemerintah juga memiliki andil dengan menggaji para pendamping ini. Sayangnya jumlah dana yang dikucurkan oleh pemerintah sendiri jauh dari kata cukup. Untuk menanggulanginya MEK bekerja sama dengan LAZIS dan beberapa CSR perusahaan untuk tetap mengembangkan potensi-potensi para pendamping untuk melakukan usaha maksimal di lapangan.

Bidang Kesejahteraan sosial

Salah satu bidang yang menjadi fokus 'Aisyiyah adalah bidang kesejahteraan sosial yang diampu oleh Majelis Kesejahteraan Sosial. Dituturkan oleh Shoimah Kastolani, tugas utama yang sedang digalakkan oleh MKS adalah pemahaman sosial protection pada para pengurus .Terutama perlindungan sosial terhadap anak yatim. Shoimah menjelaskan bahwa banyak pengurus ‘Aisyiyah sendiri yang memaknai anak yatim secara sempit hanya sebagai anak yang kehilangan orang tuannya. “Padahal yatim itu kan munfarid yang bermakna sendiri, yang terpinggirkan,”ujarnya.

Shoimah menjelaskan, memulai abad kedua 'Aisyiyalh, penguatan keluarga merupakan strategi atas visi perempuan berkemajuan. Imbauan-imbauan seperti program family time yang menjadi kegiatan sangat strategis. Bukan kuantitas jambertemu melainkan waktu yang berkualitas untuk berkumpul. Shoimah menambahkan bahwa zaman sekarang,segala persoalan keluara tidak diputuskan begitu saja. Bahkan anak pun harus dilibatkan untuk bermusyawarah,bukan didoktrin begitu saja. “Quality time itu ya bisa kapan saja. fleksibel. Bisa subuh atau saat makan malam. Ada satu hari makan Bersama sekali saja sudah hebat sekali. Atau bekerja sama misalnya bebersih rumah atau kebun”, ungkapnya. Program-program MKS di abad kedua juga menyasar tiga target utama. Pertama adalah anak-anak. Shoimah menjelaskan bahwa banyak kekerasan, terutama kekerasan seksual, yang menimpa anak-anak menjadi salah satu faktor pemicu perhatian 'Aisyiyah pada problem  ini.

Shoimah menjelaskan, jika dirunut ke belakang maka problematika yang dihadapi oleh anak perempuan saat ini adalah ancaman nikah muda demi alasan meringankan ekonomi keluarga. Shoimah menyebutkan Indonesia sendiri masih masuk dalam peringkat ke-dua se-Asia Tengara dalam urusan pernikahan anak. "Di Indonesia sendiri ada Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah. Yang tertinggi itu Kalimantan Selatan," ujar Shoimah. Persoalan ekonomi bukan menjadi satu-satunya alasan mengapa perkawinan anak terjadi. Faktor lain adalah adanya budaya, misalnya budaya kawin lari yang ada di Suku Sasak Lombok.

Menghadapi risiko ini, salah satu agenda yang dilakukan 'Aisyiyah adalah keberadaan program GACA (Gera- kan' Aisyiyah Cinta Anak). Gerakan ini, menurut Shoimah menjadi perpanjangan tangan dalam misi peralihan perkawinan anak. "Kita harus memberikan pemahaman tentang pernikahan harus dilakukan saat sudah dewasa dengan baik, agama, dan sosial ekono- minya Aktivis 'Aisyiyah juga sudah semestinya membaur bekerja sama dengan para tokoh agama, tokoh masyarakat, dan pemegang saham lokal agar aspirasinya mendapat dukun gan dari banyak pihak dan sepenuhnya tidak dinyanyikan pihak luar membantu terlaksananya visi tersebut.

untuk mengatasi kekerasan seksual yang terjadi pada anak-anak, ‘Asyiyah menekankan pentingnya pengawasan orang tua terhadap anak, karena tak sedikit kasus kekerasan pada anak justru dilakukan oleh orang-orang terdekat. "Ibu jangan menyerahkan anak kepada orang lain. Tetap harus mengawasi. Salah satu caranya adalah dengan menumbuhkan rasa saling menguatkan di antara keluarga,"ungkap Shoimah.

Menurut Shoimah, ketika terjadi kekerasan seksual kepada anak-anak, maka orang-orang Majelis Kesejahteraan Sosial 'Aisyiah akan siap untuk mendampingi. Apabila anak perlu mendapatkan bantuan advokasi hukum, maka ia akan dibantu oleh PUSBAKUM yang dibentuk oleh Majelis Hukum dan HAM. "Nah jika keluarga juga perlu disentuh aspek keagamaannya juga, itu tugas dari BIKSA (Biro Konsultasi Keluarga Aisyiyah”.

 

 Sasaran Makesos lain selain anak-anak adalah lansia Menurut Shoimah, lansia menurut definisi WHO adalah seseorang yang berusia di atas 85 tahun. Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah sendiri membiasakan tidak adanya panti jompo karena kader-kadernya ditanamkan keyakinan bahwa berbakti pada orang tua adalah salah satu upaya memperoleh surga. Untuk mengatasi ini, maka 'Aisyiyah mengembangkan program lansia daycare dan pesantren lansia. Lansia daycare sendiri tempat di mana anak bisa menitipkan orang tuanya, baik setiap hari maupun bebera hari dalam seminggu, namun tiap hari pula lansia akan pulang kembali ke rumah. Hal ini dilakukan supaya orang tua tetap merasa dibutuhkan dan tidak dibuang.

Pesantren lansia adalah tempat orang-orang lansia diberikan bekal seperti materi penguatan akidah hingga materi-materi kesehatan fisik, psikologis, dan mental. Menjadi orang tua itu kembali menjadi labil. "Sudah merupakan ketentuan dari Allah di surah Ar-Rum ayat 54 bahwa manusia dilahirkan dari lemah, kuat, dan lemah lagi. Bisa juga sikap dan pola pikiran sehingga labil seperti remaja juga. Mereka harus dikuatkan emosinya supaya merasa tetap punya harga diri dan merasa dibutuhkan,”tegasnya.

Selain Anak Dan lansia, Yang menjadi fokus perhatian ‘Aisyiyah adalah kaum difabel. Shoimah sendiri mengakui bahwa kaum difabel belum banyak mendapatkan perhatian dari Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Panti difabel Muhammadiyah sendiri hanya ada di lima wilayah yakni Jawa Timur, Jawa Barat, Riau, Sumatera Utara, dan Bengkulu.

Salah satu hal yang dirasa berat oleh banyak pengurus 'Aisyiyah adalah perlunya pendamping khusus untuk  difabel. Shoimah menambahkan, Makesos sendiri men- gakalinya dengan membuat sebuah terobosan baru yakni membuat panti difabel di mana dalam panti tersebut menerima misalnya 40 orang yang normal dan 5 orang difabel. Anak-anak yang biasa justru Menjadi pendamping Anak-anak difabel.

 

Selain anak dan lansia, yang menjadi fokus perhatian ‘Aisyiyah adalah kaum difabel.

 

Bidang Kesehatan

Dalam majelis kesehatan, isu kesehatan reproduksi sendiri menjadi fokus yang digarap ‘Aisyiyah di abad kedua ini.  Menurut Tri Hastuti, beberapa faktor pemicu antara lain tingginya angka kematian ibu,akses perempuan terhadap informasi dan layanan kesehatan reproduksi yang sangat minim. “Selain itu biasanya sudah ada kebijakan tetapi pelaksanannya belum,” ujar Tri.

Tri menambahkan bahwa setidaknya agenda strategis dibagí menjadi dua agenda yakni edukasi dan agenda avokasi. Edukasi mengenai kesehatan reproduksi biasanya dilakukan kepada komunitas karena tak Sedikit akses informasi yang diterima oleh komunitas. Cara kerjanya salah satunya dengan  merepresentasikan ulang ayat-ayat dalam al -Qur'an dan kaitannya dengan isu reproduksi dan kesejahteraan peranperempuan dan laki-laki dalam tugas reproduksi. Misalnya ketika Perempuan sedang melakukan peran reproduksi seperti hamil, maka suami perlu mengambil peran dengan menafkahi istri sepenuhnya. Sedangkan ketika ibu sedang menjalankan peran menyusui, maka suami bisa membantu dengan memberikan gizi yang baik pada Ibu dan anaknya atau melakukan pijat oksitosin. Supaya tidak terjadi beban ganda pada perempuan yang sudah mendapat tugas reproduksi.

Agenda advokasi, menurut Tri Hastuti, dilakukan dengan cara menggagarkan dana desa hingga hingga APBD untuk memperbaiki layanan kesehatan ini harusnya ada diadakan mulai dari tingkat fasilitas di tingkat pertama. Fasilitas kesehatan ini bisa berupa konseling kehamilan, senam hamil, konseling menyusui, konseling gizi.

 

Dalam melakukan edukasi dan advokasi kesehatan reproduksi, setidaknya ada dua tantangan yang dihadapi oleh ‘Aisyiyah Tri Hastuti menyebutkan bahwa tantangan pertama adalah isu kesehatan reproduksi yang masih menjadi isu pinggiran baik di tingkat desa hingga nasional. Isu ini dianggap tidak penting baik oleh masyarakat, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga pemerintah. Tantangan kedua adalah sulitnya membangun wacana kesetaraan perempuan dan laki-laki dalam kesehatan reproduksi. Selama ini karena perempuan yang memiliki rahim maka dianggap peran reproduksi mutlak diemban oleh perempuan. "Oleh karena itu laki-laki dianggap tidak ada memiliki kewajiban. Dan mengubah wacana ini sulit karena sudah menjadi budaya yang mengakar”, pungkas Tri hastuti.(d)

Shared Post:
Arsip Berita
Berita Terbaru
Berita Terkomentari