'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Berita
Pengukuhan Guru Besar Haedar Nashir : Moderasi sebagai Jalan Solusi Radikalisme
14 Desember 2019 12:46 WIB | dibaca 58

(Penyerahan SK oleh Rektor UMY Ir. Gunawan Budianto di Sportorium kepada Dr. H. Haedar Nashir, M.Si)

 

Bantul, Suara ‘Aisyiyah -Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Bidang Sosiologi pada Kamis (12/12), di Sportorium, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Bantul, DIY. Hal ini berdasarkan Surat Keputusan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi RI nomor 35528/M/KP/2019.

Dalam kesempatan tersebut, tidak hanya dihadiri para tokoh Muhammadiyah seperti Prof Dr Syafii Maarif, berserta Anggota PP Muhammadiyah lainnya, namun juga dihadiri oleh mantan Wapres Jusuf Kalla, mantan Mentrei Kelautan Susi Pudjiastuti, Menteri Agama Fachrul Razi, Menko MPK Prof Dr Muhadjir Efendi, Menteri Koperasi dan UKM teten Effendy, Wakil Ketua MPR sekaligus Ketum PAN Zulkifli Hasan, Wagub DIY Paku Alam X dan jajaran petinggi lainnya.

Bertemakan “Moderasi Indonesia dan Keindonesiaan : Perspektif Sosiologi”. Haedar memaparkan, bahwa Indonesia kini tengah darurat radikal dan radikalisme. Sehingga menjadikan radikalisme, khususmya terorisme menjadi isu dan agenda penganggulangan yang utama.

“Radikalisme pada awalnya netral, namunsecara sosiologis tidak ada yang netral. Ketika radikal telah dikonstruksi oleh alampikiran perseorangan, dalam sosiologi ilmu pengetahuan atau dalam pikiran publik menjadi alam pikiran bersama, makatergantung pada siapa yang mengadopsi konsep itu, untuk apa, dan lain sebagainya” paparnya.

Haedar menyatakan bahwa persoalan radikalisme telah hinggap dalam berbagai sisi kehidupan bangsa Indonesia, dan hal iniharus diselesaikan. “Indonesia harus mampu menyelesaikan masalah radikalisme dalam kehidupan politik, ekonomi, budaya, dan keagamaan. Agar berjalan ke depan sesuai dengan landasan, jiwa, pikiran yang  berwatak moderat. Maka, jalan moderasi merupakan alternatif dari deradikalisasi dalam menghadapi segala bentuk radikalisme secara moderat,” tegasnya.

Mengapa moderasi? Haedar menegaskan bahwa, radikal tidak dapat dilawan dengan radikal. “Jika digunakan jangka panjang, bahkan dapat menyebabkan radikalisme baru,” imbuhnya. Kemudian, moderasi Indonesia merupakan kontinyuitas dari akar di Kepulauan yang berwatak moderat berdasarkan Pancasila dan ber-Bhineka Tunggal Ika sebagai titik temu. Terakhir, moderasi dalam konteks kehidupan kebangsaan. Merupakan jalan tengah ekstrimitas atau radikal-ekstrem untuk mengembalikan Indonesia ke keindonesiaannya pada proporsi semula sebagaimana terkandung dalam UUD 1945.

Maka, Indonesia yang telah merdeka pada 1945, bersatu dalam Bhinneka Tunggal Ika. Hal tersebut merupakan titik temu dari seluruh elemen atau unsur keberagaman. “Titik temu inilah yang menjadi kekuatan moderat di tubuh Indonesia, sehingga dapat disimpulkan Indonesia dengan segala aspek keindonesiaannya yang diikat dan dilandasi Pancasila itu sejatinya berkarakter moderat. Karenanya Indonesia tidak boleh ditarik dan dibelokkan menjadi radikal, ekstrem, dan mengingkari kemoderatan dirinya,” ungkap Haedar.

Diakhir, Haedar menyampaikan terima kasih yang mendalam kepada seluruh tamu undangan. Haedar juga sempat terharu dan terbata-bata saat mengucapkan terima kasih kepada Prof Yunahar Ilyas, yang saat itu sedang sakit, juga saat mengucapkan terima kasih kepada para tokoh Muhammadiyah yang sudah almarhum. Sejenak terdiam, kemudian Haedar melanjutkan lagi dengan terbata-bata saat mengucapkan terimakasih kepada kedua orangtuanya, hingga istri tercinta Siti Noordjannah Djohantini.

Pada kesempatan tersebut Jusuf Kalla dalam sambutannya, mengucapkan selamat, serta menyampaikan pandangannya terhadap pidato Haedar. “Saya ucapkan selamat kepada Pak Haedar atas pengukuhan guru besarnya. Serta saya sepakat atas apa yang disampaikan Pak Haedar begitu penting. Reformasi pun merupakan radikalisme dari sudut pandang Orde Baru. Maka, dengan apa yang disampaikan tadi, semoga kita dapat berpikir serta menerapkan moderasi sebagai jalan alternatif menghadapi radikalisme,’ ungkapnya. (Gustin)

Shared Post:
Arsip Berita
Berita Terbaru
Berita Terkomentari