'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Idea
Home » Idea
5 Karakter Gerakan 'Aisyiyah*
13 Oktober 2018 12:56 WIB | dibaca 234
oleh: Fikry

Foto: dok 'Aisyiyah

Menurut penulis buku Purifying The Faith: The Muhammadiyah Movement In Indonesian Islam James Peacock, 'Aisyiyah merupakan gerakan perempuan Islam modern terbesar di dunia. Senada, menurut Mukti Ali, 'Aisyiyah adalah wujud kelembagaan  yang menjadi ciri khas Muhammadiyah sebagai gerakan pembaruan di dunia Islam.

 

Memasuki awal abad kedua pergerakannya, 'Aisyiyah harus mengevaluasi keberadaan dan peran gerakannya. Pada saat yang sama, ia harus berbenah dan memperbarui kiprahnya. Hal tersebut dilakukan agar 'Aisyiyah mampu bertahan dan berkembang di abad yang masalah dan tantangannya sangat kompleks ini.

 

Agar 'Aisyiyah dapat berperan lebih maju, maka penting untuk memetakan situasi internal dan eksternal yang sedang dihadapi, serta bagaimana antisipasinya ke depan. Secara internal 'Aisyiyah memiliki lima karakter yang harus diphami sebagai landasan pergerakan.

 

Satu, 'Aisyiyah adalah gerakan Islam berkemajuan. Islam menjadi landasan, jiwa, pikiran, dan pusat orientasi gerakan 'Aisyiyah. Ciri-cirinya adalah: Islam menjadi asas gerakan dan pedoman hidup utama gerakan, pandangan keislamannya merujuk pada Al-Quran dan Sunnah Maqbulah, mengaktualkan nilai-nilai Islam, dan mewujudkan cita-cita Islam yakni masyrakat Islam yang sebenar-benarnya.

 

Karakter Islam yang menjadi ciri 'Aisyiyah adalah Islam berkemajuan. Ia merupakan Islam yang berkarakter wasithiyah (tengahan), bukan fundamentalis kanan, bukan pula sekular-liberalis kiri. Pandangan berkemajuan ini harus menjadi alam pikiran pimpinan, kader, dan anggota 'Aisyiyah di seluruh lini struktur dan amal usaha.

 

Dua, 'Aisyiyah adalah gerakan perempuan berkemajuan. Organisasi ini sejak awal menggelorakan gerakan perempuan. Umat disadarkan agar memuliakan perempuan sebagaimana mulianya laki-laki yang keduanya merupakan insan bermartabat. Perempuan dan laki-laki sama kedudukannya di mata Allah yakni sebagai hamba dan khalifah di muka bumi untuk memakmurkan kehidupan. Tiada beda antara keduanya dalam hal keimanan, ketakwaan, dan amal saleh.

 

Pada awal kelahirannya, 'Aisyiyah berhadapan dengan masyarakat yang pandangan keagamaan dan struktur kebudayaannya merendahkan perempuan. Lalu 'Aisyiyah menanamkan paham Islam berkemajuan, merintis pendidikan modern untuk perempuan, mendirikan amal usaha kebajikan, memelopori Kongres Perempuan 1928, melalui sosok-sosok Nyai Walidah, Siti Bariyah, Siti Hayyinah, Siti Munjiyyah, dan lain-lain.

 

Puncak formalnya, pemerintah Indonesia memberikan penghargaan kepada Nyai Walidah Ahmad Dahlan sebagai Pahlawan Nasional sebagai bukti ketokohannya. 'Aisyiyah yang ia dirikan bersama Kiai Dahlan telah memelopori kebangunan perempuan untuk mengecap pendidikan dan berfungsi sosial setara kaum laki-laki.

 

Tiga, 'Aisyiyah berbasis komunitas akar rumput. 'Aisyiyah bergerak dalam nadi kehidupan masyarakat setempat, baik perkotaan maupun pedesaan, entah itu di pusat keramaian maupun di daerah terpencil pedalaman. Gerakan tersebut nyata dalam bentuk mobilisasi massa ke pengajian, program pemberdayaan ekonomi, pelayanan kesehatan massal, gerakan literasi, hingga pendidikan kewargaan.

 

Di tengah arus globalisasi yang sering memporak-porandakan tatanan masyarakat setempat, 'Aisyiyah hadir dengan program ikoniknya yaitu Keluarga Sakinah dan Qoryah Thayyibah. Keduanya menjadi pilar bagi penguatan masyarakat madani yang faktual, terutama di aras lokal.

 

Empat, 'Aisyiyah adalah gerakan praksis amal usaha. 'Aisyiyah merupakan sedikit dari gerakan perempuan yang memilki pranata sosial praksis yang disebut amal usaha. Mulai dari PAUD/TK, balai kesehatan dan rumah sakit, panti asuhan, koperasi, hingga perguruan tinggi, tersebar di seluruh tanah air, hingga ke Kairo dan Kuala Lumpur.

 

Lima, 'Aisyiyah berwawasan kebangsaan dan kemanusiaan universal. Sebagaimana Muhammadiyah, 'Aisyiyah terlibat dalam memberi pandangan tentang isu-isu kebinekaan, tolerans, NKRI, dan hal aktual lainnya dalam dinamika keindonesiaan mutakhir. Pedomannya antara lain mengacu pada pikiran Revitalisasi Visi dan Karakter Bangsa, Indonesia Berkemajuan, Isu-isu Strategis, dan Negara Pancasila sebagai Darul Ahdi Wasyahadah yang dihasilkan PP Muhammadiyah.

 

Dalam konteks global, 'Aisyiyah juga dituntut untuk berkiprah sesuai spirit kosmopolitanisme Islam dan visi gerakan pencerahan Muhammadiyah Abad Kedua. Posisi dan perannya tetap wasithiyah, serta sejalan dengan visi, misi, dan usaha agar tidak besar pasak daripada tiang. Semua dalam spirit Islam rahmatan lil-'alamin! (ff)

 

*Disarikan dari Pidato Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir pada Resepsi Milad 100 Tahun 'Aisyiyah di Yogyakarta, 19 Mei 2017

Shared Post:
Idea Terbaru
Berita Terbaru