'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Idea
Home » Idea
‘Aisyiyah Mencegah dan Mengatasi Pernikahan Usia Anak
23 November 2019 13:14 WIB | dibaca 18
oleh: Fikry
Sumber Foto https://beritagar.id/
 
 
 
Sebagai gerakan perempuan muslim berkemajuan, isu perempuan dan anak sudah tentu menjadi perhatian ‘Aisyiyah. Isu pernikahan usia anak adalah satu dari sekian isu perempuan  dan anak yang menjadi perhatian. Dalam kasus ini, Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Mamuju, Sulawesi Barat menjadi salah satu yang tersibuk.

Ketua PDA Mamuju Halimah menyatakan bahwa pada tahun 2016, Provinsi Sulawesi Barat  menempati ranking pertama seluruh Indonesia mengenai tingginya angka pernikahan usia anak. “Nomor satu di Sulawesi Barat adalah Mamuju,” ujar Halimah. Di Mamuju sendiri ada tiga daerah yang menjadi fokus advokasi ‘Aisyiyah, karena di tempat itulah prevalensi nikah anak tinggi, yakni Simboro, Mamuju, dan Kaluku.

Halimah memandang ada tiga faktor utama di Mamuju yang menyebabkan tingginya angka pernikahan usia anak. Pertama adalah faktor ekonomi berupa kemiskinan. Seperti kasus di beberapa daerah lain, pernikahan usia anak menjadi jalan keluar untuk mengurangi biaya hidup sebuah keluarga.

Selain faktor ekonomi, terdapat juga faktor pendidikan. Ketiadaan akses pendidikan yang memadai, membuat banyak anak dan remaja memutuskan berhenti sekolah sedini mungkin. Di usia SMP sudah banyak yang putus sekolah, dan di usia 15-16 tahun sudah melangsungkan pernikahan. “Bahkan ada yang berusia 20 tahun tapi sudah punya empat anak,” Halimah menunjukkan fakta miris.

Di Mamuju sendiri memiliki budaya yang menunjang tingginya pernikahan usia anak. Jika ada seorang gadis yang sudah dilamar, maka harus sesegera mungkin dinikahkan. Seperti hasil penelitian Djamilah dan Reni dalam Dampak Perkawinan Anak di Indonesia, bahwa di seluruh lokasi penelitian kecuali DKI Jakarta, jika perempuan belum menikah sampai usia 18 tahun, maka ia menyabet gelar perawan tua.

Berdasarkan penuturan Halimah, salah satu dampak yang lebih mengerikan dari pernikahan usia anak di Mamuju adalah kanker serviks. PDA Mamuju bersama pemerintah pernah memeriksa 40 perempuan secara acak di enam daerah. Hasilnya adalah 8 perempuan di antaranya berada di fase pra-kanker, 3 positif, dan 1 meninggal. Menurutnya angka ini terhitung tinggi, dan yang membuatnya khawatir adalah bahwa angka ini diperoleh dari hasil acak. “Memang pasien terlihat kuat dan tidak mengeluh,” kata Halimah.

Sejumlah upaya ditempuh PDA Mamuju mulai dari advokasi yang bersifat litigatif maupun non-litigatif. Di antara upaya non-litigatif yang ditempuh adalah melakukan sosialisai dan kampanye stop nikah anak di komunitas di desa-desa. Dalam usahanya, Kepala Desa, Kepala Dusun, dan Kepala Lingkungan setempat dilibatkan dan dimintai dukungan.

Adapun upaya litigatif yang bersifat menekan kebijakan adalah dengan mendorong peraturan desa tentang pencegahan pernikahan usia anak. Selain upaya yang mengintervensi langsung angka pernikahan usia anak, PDA Mamuju melakukan pula program yang akan menunjuang berkurangnya faktor penyebab pernikahan usia anak. Di antaranya adala pelatihan kewirausahaan BUEKA agar para anak putus sekolah memiliki keterampilan sehingga memilih untuk memulai usaha alih-alih memulai rumah tangga sendiri. Dengan menggandeng Desa setempat, didirikan Bank Desa. Darinya anak yang rentan terhadap pernikahan usia anak diberi dana supporting sebesar Rp 500.000,- untuk memulai usaha.

Gaya Hidup

Jika di Mamuju tiga faktor yakni ekonomi, pendidikan, dan tradisi menjadi penyebab terbesar nikah anak, lain lagi di Dlingo, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Anggota Lembaga Penelitian dan Pengembangan ‘Aisyiyah (LPPA) PP ‘Aisyiyah, Islamiyyatur Rakhmah, penyebab utama tingginya nikah anak di Dlingo oleh gaya hidup.

Berdasarkan penelitian terakhir yang dikerjakan kerjasama antara LPPA dan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (Unisa) nikah anak menjadi tren di kalangan anak dan remaja. Salah satu akarnya adalah kehamilan yang tidak diinginkan, mengingat di daerah Dlingo banyak hutan pinus dan tempat sepi yang kerap digunakan sebagai tempat berpacaran yang tidak sehat. Sehingga nikah anak menjadi pilihan solusi dari kehamilan yang tidak diinginkan tersebut. “Pengaruh keterbukaan informasi melalui internet juga mempengaruhi tren ini,” kata Islamiyyatur.

Pada 2012, angka nikah anak di Dlingo mencapai 150-180 kasus. Islamiyyatur bercerita bahwa pernah ada kasus kehamilan yang tidak diinginkan terjadi. Orang tua korban lalu menggelar sayembara berhadiah sepeda motor bagi laki-laki yang mau mengaku dan bersedia menikahi korban hamil.

Sebagai tindakan penanggulangan, LPPA tengah menyiapkan kader pendamping keluarga muda di sana melalui pelatihan kader pendamping. Kader nantinya akan mendampingi pasangan muda memberi pendidikan kesehatan reproduksi, keluarga sakinah, dan penguatan ekonomi agar bisa mandiri. Mayoritas selama ini pasanga nikah muda justru masih tinggal bersama orang tuanya dan tambah membebani. “Karena sasarannya anak dan remaja, harapannya kampanye anti nikah muda ini bisa memiliki duta atau influencer dari sosok anak muda inspiratif,” ujar Islamiyyatur. 

Shared Post:
Idea Terbaru