'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Idea
Home » Idea
‘Aisyiyah-Muhammadiyah Songsong Ekonomi 4.0
05 Desember 2019 09:06 WIB | dibaca 107
oleh: d
Sumber Foto : http://digikidz.id/
 

Memasuki era 4.0, transaksi ekonomi telah merambah ke dunia digital. Warga dunia tidak punya pilihan. Ikut dalam inovasi atau tertinggal dan menunggu waktu untuk punah. Seperti disebutkan oleh Ahmad Ma’ruf, Wakil Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah yang menyebutkan bahwa sudah semestinya kita ikut dalam arus teknologi. “Mau tidak mau, kita harus ikut. Kita tidak boleh ngotot atau tetap bertahan dengan cara-cara konvensional. Kalau tidak ikut, kita akan ketinggalan,” ujarnya.

Hal ini juga diaminkan oleh Latifah Iskandar, Ketua PP ‘Aisyiyah yang membidangi Majelis Ekonomi PP ‘Aisyiyah yang menyebutkan bahwa ekonomi digital merupakan suatu keniscayaan. Hal ini tentu saja disebabkan oleh pesatnya perkembangan teknologi.

Maruf menambahkan bahwa ekonomi di era digital bersifat borderless. Dengan demikian, jika kondisi dioptimalkan, maka akan menghasilkan peluang bisnis karena dapat menjangkau target pasar yang lebih besar. Tentu saja, dengan meluasnya pasar, maka keuntungan akan semakin bertambah. Ia juga menjelaskan bahwa baik bisnis skala kecil maupun besar harus mampu mengikuti perubahan zaman agar tetap bertahan dan mampu bersaing.

Walau begitu, tak bisa dimungkiri bahwa ekonomi digital memliki dampak negatif. Salah satunya adalah warung atau toko berbentuk fisik menjadi lebih sepi. Selain itu, Maruf menjelaskan diperlukan SDM yang memiliki motivasi untuk melakukan perubahan. Sayangnya tak sedikit SDM yang tak mampu bahkan tak mau untuk berubah mengikuti dinamika zaman. Latifah menjelaskan bahwa di era digital ini akan ada banyak pekerjaan yang punah. “Menurut ahli, di era digital seperti sekarang akan hilang 2000 pekerjaan, tetapi akan bertambah 8000 pekerjaan lain. Jadi pintar-pintar orang mencari peluang.”

Strategi Hadapi Era Digital

Menghadapi era digital, tentu Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah memiliki program khusus. Latifah menjelaskan, MEK ’Aisyiyah sendiri memiliki program yang telah lama dilakukan yakni Sekolah Wirausaha ‘Aisyiyah (SWA). Sekolah ini bertujuan untuk mendidik para kader untuk menjadi pengusaha handal. Selain keberadaan SWA, tersedia pula KUKA (Klinik Konsultasi Usaha ‘Aisyiyah) yang menjadi konsultan dan pendamping jika pengusaha. “KUKA menjadi konsultan bagi para pengusaha jika mengalami kendala dalam bisnisnya. Apabila dalam menjalankan usaha mengalami kendala perlu pendampingan dan konsultasi akan difasilitasi oleh KUKA yang datang kepada para anggota,” ujar Latifah.

Terkait literasi ekonomi digital, Latifah menuturkan bahwa MEK juga telah melakukannya dengan mengundang para pakar untuk memberikan materi tentang ekonomi digital. Beberapa materi yang biasa diajarkan adalah penjualan menggunakan media sosial seperti Facebook dan Instagram maupun marketplace. Selain itu, kelas fotografi produk juga dilakukan untuk mendukung penjualan online. Majelis Ekonomi dan Ketenagakerjaan, tambah Latifah, juga bermaksud mengembangkan marketplace yang diinisiasi oleh ‘Aisyiyah.

Sedangkan Maruf menyebutkan bahwa pada tahun 2017 hingga 2018, MPM telah membuat sebuah aplikasi untuk mendorong para pebisnis binaannya ikut memasuki dunia ekonomi digital. Aplikasi yang diberi nama
LAPAKMu ini sempat digunakan oleh pebisnis yang berada di bawah naungan MPM Muhammadiyah.

Selain itu, beberapa langkah strategis dibuat dan dilakukan bersama-sama. Langkah strategis tersebut antara lain mengorganisir kelompok dampingan, membangun kapasitas pelatihan dasar seperti memberikan materi tentang konsep bisnis, dan melakukan pendampingan literasi digital.

Maruf menjelaskan bahwa pendampingan dan pemberian materi literasi digital biasanya diberikan oleh mahasiswa dari beberapa kampus seperti Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas ‘Aisyiyah, Universitas Islam Indonesia, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Ahmad Dahlan.

Sayangnya, genap setahun aplikasi ini berjalan, evaluasi menunjukkan bahwa program ini belum bisa berjalan maksimal. Disebutkan Maruf, beberapa hal menjadi kendala seperti SDM yang belum bisa mengimbangi, model pendampingan yang kurang tepat, dan karakteristik produk.

Maruf menjelaskan bahwa tidak semua SDM memiliki motivasi untuk melakukan perubahan. Misalnya saja para pelaku usaha yang berusia lebih dari 50 tahun dan kesulitan menggunakan gawai dan mengoperasikan media sosial. Selain itu, model pendampingan MPM juga lebih bersifat kelompok. Ia menambahkan bahwa untuk ekonomi digital, akan lebih efektif jika dilakukan pendampingan secara perorangan. Karena masing-masing orang memiliki tingkat kepedulian yang berbeda terkait ekonomi digital. 

Sayangnya, pendampingan individu tidak bisa dilakukan secara optimal karena terbatasnya SDM yang mampu dan mau mendamping. “Yang mendamping program ini kan mahasiswa-mahasiswa. Jadi, kadang mereka terkendala juga oleh waktu dan kegiatan yang banyak.”

Selain itu, karakteristik produk yang dijual juga mempengaruhi keberhasilan ekonomi digital di kalangan pelaku bisnis yang dinaungi MPM. Beberapa produk bahkan tidak memerlukan penjualan melalui online seperti warung-warung nasi atau pedangan retail skala kecil. Maruf menjelaskan bahwa transaksi digital akan lebih efektif jika digunakan untuk menjual barang-barang yang bersifat tahan lama seperti kerajinan atau produk sandang. Ke depannya, menurut Maruf konsep ekonomi digital di MPM tentu akan dikembangkan. Berkaca dari program sebelumnya, maka program-program ini akan diperbaiki dan melakukan pendekatan sesuai kebutuhan.

Shared Post:
Idea Terbaru
Berita Terbaru