'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Idea
Home » Idea
Karakter Pendidikan 'Aisyiyah
01 November 2019 13:59 WIB | dibaca 52
oleh: Fikry
 
Dunia pendidikan kita kembali tersentak di awal tahun ini. Budi Cahyono, seorang guru di Sampang, Jawa Timur, meninggal dunia setelah mengalami kekerasan di sekolahnya. Budi bukanlah yang pertama, karena sepanjang tahun lalu kita menyaksikan kasus kekerasan yang melibatkan peserta didik maupun tenaga pendidik. Di penghujung tahun 2017, Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mengeluarkan catatan akhir tahun pendidikan yang menyatakan kekerasan di dunia pendidikan semakin masif.Menanggapi fenomena tersebut, Ketua PP ‘Aisyiyah Masyitoh Chusnan menyebutnya sebagai tamparan untuk dunia pendidikan kita. Ia tidak melihat adanya kecerdasan emosional dalam fenomena kekerasan tersebut. Terdapat berbagai kemungkinan yang menjadi akar masalah: faktor guru, siswa, hingga sistem pendidikan secara umum, “Semua harus introspeksi,” seru Masyitoh.
 
Menanggapi fenomena tersebut, Ketua PP ‘Aisyiyah Masyitoh Chusnan menyebutnya sebagai tamparan untuk dunia pendidikan kita. Ia tidak melihat adanya kecerdasan emosional dalam fenomena kekerasan tersebut. Terdapat berbagai kemungkinan yang menjadi akar masalah: faktor guru, siswa, hingga sistem pendidikan secara umum, “Semua harus introspeksi,” seru Masyitoh.Perilaku agresi terhadap guru seperti yang terjadi di Sampang tersebut, berdasarkan analisis psikologi, menurut Bagoes Kastolani, pakar psikologi Universitas Airlangga (Unair), terdapat dua dorongan, yakni dorongan eros dan thanatos. Dorongan eros merupakan dorongan hidup yang mencakup sifat mencintai, menyayangi, dan mengasihi. Sementara thanatos merupakan dorongan mati termasuk melakukan agresi. “Orang yang banyak sifat agresinya berarti banyak dorongan thanatosnya.” Thanatos, imbuh Bagus, jika tidak dibarengi ego (realita) dan super ego (norma dan aturan) termasuk aturan beragama maka agresinya liar. Dorongan agresi tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk fisik dan verbal,” jelas Bagoes.

Bagoes mengungkapkan, ada kemungkinan pelaku mengalami deprivasi relatif, yakni keadaan seseorang merasakan ketidakpuasan atas kesenjangan atau kekurangan yang dilakukan. Artinya kekurangan itu yang menjadikan agresi. Kekurangan dapat berupa kekurangan materi bahkan dapat juga berupa kekurangan kasih sayang, terutama kekurangan kasih sayang dari orang tuanya. Meskipun, terang Bagus, kadang agresi pada remaja dilakukan sebagai bentuk eksistensi saat mencari identitas diri. “Artinya pada remaja terdapat keinginan menampakkan kelebihannya untuk menutupi kekurangannya,” simpulnya.

Kekerasan yang semakin masif hanyalah satu dari sekian tantangan yang dihadapi pendidikan ‘Aisyiyah pada abad kedua. Masyitoh mengajak seluruh warga ‘Aisyiyah terutama yang bergulat di dunia pendidikan, bahwa pendidikan di abad kedua ‘Aisyiyah harus lebih baik. Terutama Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Kanak-kanak (TK) yang menjadi ciri khas sayap perempuan Muhammadiyah ini. “Harus berubah dari berbagai aspek terutama pembelajaran,” jelas Guru Besar Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) tersebut.

Nilai Utama Pembelajaran di ‘Aisyiyah

Menurut Masyitoh, pembelajaran yang dirancang ‘Aisyiyah mesti berbasis Iman, Ilmu, dan Amal. Orang beramal tanpa ilmu, amalnya akan tertolak. Seseorang yang sudah beriman pasti ditunjang oleh ilmu tentang ketauhidan, lalu diaplikasikan dengan amal. “Ketiganya tidak bisa dipisahkan,” tegasnya.

Basis Iman, Ilmu, dan Amal ini, ungkap Masyitoh, sejatinya merupakan rumusan nilai utama dari empat dimensi ajaran Islam menurut Muhammadiyah, yakni Akidah, Ibadah, Akhlak, dan Muamalah Duniawiyah. Keempat dimensi ajaran tersebut mencakup hubungan vertikal dengan Allah (hablumminallah) dan hubungan horisontal dengan sesama manusia dan makhluk lainnya (hablumminannas). “Tinggal para guru menerjemahkan ke dalam pembelajaran yang sesuai dengan anak PAUD misalnya,” kata Masyitoh.

Pembentukan nilai-nilai utama Iman, Ilmu, dan Amal diproses dengan pembiasaan melalui kegiatan pembelajaran sehari-hari. Masyitoh memaparkan, bahwa dimensi Iman membiasakan siswa atau anak mencintai Allah, nilai cinta kepada Rasul, dan cinta Islam rahmatan lil ‘alamin. Dimensi Ilmu membiasakan nilai serap belajar, menambah wawasan, cerdas intelektual dan emosional, serta nilai-nilai kemajuan. Dimensi Amal membiasakan nilai beramal, etos kerja, etos belajar, punya semangat berjuang, tolong-menolong, bersahabat, berbagi, rela berkorban, cinta tanah air, dan toleransi.

Selain diproses dengan pembiasaan, nilai utama Iman, Ilmu, dan Amal juga didekati dengan pendekatan Bayani, Burhani, dan Irfani mengacu pada pendekatan masalah keagamaan menurut Majelis Tarjih. Pendekatan Bayani bisa berbentuk hafalan dan qira’ah al-Quran. Burhani diterapkan melalui kegiatan tanya jawab dan ekperimen. Serta pendekatan Irfani diterapkan pada kegiatan menyanyi, bercerita, melukis, dan wisata.

Sementara itu, Sekretaris Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah, Alpha Amirrachman, mengingatkan bahwa pendidikan yang harus dirancang semua elemen di tubuh persyarikatan adalah pendidikan karakter. Pendidikan berbasis karakter telah terkan-dung nilai dasarnya di dalam al-Quran dan Sunnah, dua sumber ajaran Islam yang menjadi referensi gerakan Muhammadiyah.

Alpha mengatakan, dalam perspektif Islam, karakter atau akhlak mulia merupakan buah yang dihasilkan dari penerapan syariah, yakni ibadah dan muamalah duniawiyah yang dilandasi oleh fondasi akidah yang kokoh. “Ibarat bangunan, karakter atau akhlak merupakan kesempurnaan dari bangunan tersebut setelah fondasinya kokoh,” ujarnya.

Berdasarkan dua sumber rujukan utamanya pula, Muhammadiyah merumuskan visi pendidikan dasar dan menengahnya pada Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar tahun 2015 lalu. Visi tersebut berbunyi “berkembangnya fungsi pendidikan dasar dan menengah Muhammadiyah yang mencakup sekolah, madrasah, dan pondok pesantren yang berbasis al-Islam-Kemuhammadiyahan, holistik integratif, bertata kelola baik, serta berdaya saing dan berkeunggulan.

Perspektif Islam mengenai karakter dan itikad Muhammadiyah melalui visi pendidikannya sudah diadopsi dan selaras dengan Tujuan Pendidikan Nasional berdasarkan Pasal 3 UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Tujuan pendidikan nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Dari tujuan tersebut Alpha merumuskannya menjadi empat aspek: sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan, dan keterampilan. Tujuan pendidikan nasional harus mengembangkan peserta didik yang memiliki sikap, spiritual, sikap sosial berupa akhlak mulia, sehat, mandiri, dan demokratis serta bertanggungjawab. Tujuan juga harus melahirkan peserta didik yang berilmu dalam aspek pengetahuan, serta cakap dan kreatif dalam aspek keterampilan.

Tantangan Era Milenial

Tantangan lain pendidikan ‘Aisyi-yah masa kini adalah karakteristik generasi yang terus bertumbuh, dari generasi Milenial hingga generasi Alpha. Disebut era milenial karena saat ini generasi Milenial yang lahir antara tahun 1980-2000-an mulai mengisi peran-peran kunci dalam perubahan sosial. Di era ini pula terdapat generasi setelahnya, yakni Generasi Z (kelahiran 2000-2010) yang kini tengah duduk di bangku sekolah menengah dan dasar; dan generasi Alpha, yaitu gene-rasi yang terlahir pada 2010 hingga sekarang. Generasi Alpha, kini mulai duduk di bangku sekolah dasar dan pendidikan anak usia dini, termasuk para murid dari PAUD yang dikelola oleh ‘Aisyiyah.

Dalam pandangan Alpha Amirrachman, generasi millenial maupun generasi Z ini adalah generasi yang sangat terhubung dan aktif di media sosial. Sebesar 45,4% nya aktif di lima media sosial paling populer YouTubeFacebookTwitterInstagram, dan Google+. Generasi ini juga memiliki karakter self-starter/directed, sebanyak 42% generasi milenial ingin bekerja mandiri dan 37% menyatakan ingin hobinya adalah pekerjaannya. Serta generasi ini adalah generasi fast learner dan learning by exploring, dengan 72% ingin mendesain sendiri pilihan pendidikannya, 67% menginginkan pendidikan wirausaha, dan 54% ingin pedagogi pengajaran berbasis IT.

Selain tantangan dari generasi Milenial sendiri, terdapat pula tantangan dari luar diri mereka dalam mendidik generasi baru ini. Tantangan eksternal yang pertama dan kedua merupakan efek dari kecenderungan global yaitu tantangan globalisasi dan revolusi industri keempat. Sedangkan tantangan ketiga yaitu kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) terutama mempersiapkan bonus demografi yang akan mencapai puncaknya pada tahun 2030, dalam rangka menyambut Indonesia Emas di tahun 2045.

Dari semua data dan uraian mengenai profil kaum milenial di atas, Alpha menggagas sebuah kesimpulan tentang ciri Generasi Milenial Indonesia Berkemajuan.

Maka Pemerintah dan Muhammadiyah sudah tepat menggagas pendidikan karakter, yang diterjemahkan oleh ‘Aisyiyah sebagai pendidikan yang berbasis Iman, Ilmu, dan Amal.

Alpha yang juga menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Bidang Monitoring Implementasi Kebijakan, menjabarkan respon pemerintah menghadapi situasi ini. Atas inisiatif Mendikbud Muhadjir Effendy, Presiden Joko Widodo meneken Peraturan Presiden (Perpres) No.87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter. Peraturan ini lahir dalam rangka menguatkan manajemen berbasis sekolah dan memperkuat ekosistem pendidikan. Artinya, pendidikan karakter melibatkan keluarga dan masyarakat dengan sekolah sebagai “manajer pemantau”. Sedangkan ekosistem pendidikan ialah menjadikan segala hal yang berada di sekitar sekolah sebagai sarana pembelajaran.

Dalam beberapa tahun ke depan, Alpha mengatakan negara akan sangat kuat. Negara akan mengambil tiga ranah gerakan Muhammadiyah selama ini yakni pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial. Sehingga negara akan memberikan subsidi bagi pembiayaan di tiga sektor tersebut. Tetapi Muhammadiyah tidak akan serta merta mendapat keuntungan dari situasi tersebut jika pendidikannya tidak berbenah. “Kalau tidak ada daya tawar tidak akan hidup,” tegas Alpha.

Dalam mengantisipasi situasi tersebut maka Muhammadiyah menawarkan pembeda pada pendidikannya yaitu identitas ideologis. Maka Majelis Dikdasmen saat ini tengah merevitalisasi dan menyempurnakan pembelajaran Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) yang menyentuh tidak saja aspek kognitif, tapi juga afektif dan psikomotorik. “Sudah masuk tahap kedua (penyempurnaannya),” ujar Alpha.

Selain menyempurnakan AIK, Dikdasmen juga menempuh program pelatihan untuk para kepala sekolah. Para kepala akan dilatih agar sesuai tuntutan zaman yang harus mandiri dan juga memiliki kemampuan sebagai manajer yang kreatif dan pandai memotivasi. Program berikutnya yang ditempuh adalah penguatan basis data pendidikan Muhammadiyah, sebagaimana amanat Muktamar.

Hal penting lain yang juga sedang dikerjakan Majelis Dikdasmen dalam masa periode lima tahun ini adalah peningkatan kompetensi guru. ‘Aisyiyah bekerja sama dengan berbagai pihak, saat ini juga tengah meningkatkan kompetensi guru melalu program beasiswa bagi guru PAUD ‘Aisyiyah, terutama bagi guru di kawasan Indonesia Timur. Guru hari ini dituntut bukan saja cakap dalam transfer keilmuan, namun juga pandai menjadi fasilitator. Dikdasmen telah mendorong pembentukan Forum Guru Muhammadiyah (FGM). FGM dibentuk sebagai wadah meningkatkan kompetensi, berbagi pengalaman, termasuk hak dan kewajiban guru di mata hukum. Alpha menilai sebagus apapun kurikulum, jika guru tidak kompeten maka kurikulum akan mati. Guru merupakan ujung tombak pendidikan. Lalu ia mengutip perkataan Mendikbud Muhadjir Effendy bahwa “Guru adalah living curriculum,” pungkasnya. 

Shared Post:
Idea Terbaru
Berita Terbaru