'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Idea
Home » Idea
Kiprah ‘Aisyiyah di Kancah Global
14 Januari 2020 11:30 WIB | dibaca 37
oleh: d
(Persentasi tentang pentingnya penguatan kapasitas lokal di PBB)
 

Keterlibatan agama untuk menjadikan dunia lebih baik menjadi harapan warga dunia. Seperti dijelaskan oleh Siti Syamsiatun, Direktur Indonesian Consortium for Religious Studies, menurutnya, agama memiliki potensi untuk berkontribusi positif terhadap suatu bangsa dan negara, dan tentu saja dunia. Ia menambahkan bahwa tak dapat dimungkiri agama dapat menimbulkan konflik. “Misalnya saja dulu di Eropa, penganut Protestan berperang. Di Indonesia memang ada konflik, tetapi tradisinya tidak seperti di sana.”

Meski begitu, Syamsiyatun menegaskan, bahwa agama berpotensi untuk mewujudkan perdamaian. Kebanyakan agama mengajarkan nilai-nilai kedamaian. Namun praktik keterkaitan antara agama dan perwujudan kehidupan negara yang lebih baik juga memiliki kelemahan. Syamsiatun mencontohkan, bahwa Indonesia sebagai welfare state memiliki kelemahan karena tidak dapat menampung dan memfasilitasi seluruh agama dalam proses ini. Hal tersebut dikarenakan Indonesia dibangun atas banyak agama dan keyakinan. Bahkan saking banyaknya, maka hanya 6 agama mayoritas saja yang “difasilitasi”.

Idealnya, Syamsiatun menambahkan, bagaimana semua orang mampu menghadapi perbedaan ini. Bagaimana setiap orang harus sadar bahwa kecintaan mereka terhadap agama sendiri sama dengan kecintaan orang lain terhadap agama mereka masing-masing. “Prinsipnya how to cope diversity. Idealnya setiap orang berpikir dan bertindak seperti itu. Kalau itu dipraktikkan, maka kita tidak boleh memaksakan agama kita ke orang lain karena harus menghormati prinsip mereka. Negara juga harus melindungi semua agama karena Indonesia dibangun dari berbagai kelompok agama,” terang Syamsiyatun.

Ia menambahkan, dalam Islam sendiri, selain berfokus pada hablun minallah (hubungan dengan Tuhan), ada pula relasi hablun minannas (hubungan dengan sesama manusia). Dengan menjadi muslim yang memberikan contoh baik, maka orang lain akan memberi respek atau menaruh rasa hormat kepada Islam karena menjadi representasi muslim yang baik.

Kontribusi positif dari agama, Islam khususnya, dapat berfokus pada isu apapun. Misalnya perubahan iklim. Syam-siatun mengungkapkan, perubahan iklim yang sekarang terjadi dan tengah jadi fokus seluruh negara akan berimbas kepada siapapun tanpa pandang status sosial hingga agama seseorang. “Bagaimana Islam bisa berkontribusi sesuai etika universal agar perubahan iklim dapat diatasi. Dalam Islam sendiri, terutama di al-Quran ada banyak ayat yang berbicara tentang alam, gunung, flora, dan fauna. Bagaimana seharusnya memperlakukan sesama makhluk hidup. Kita harus banyak peduli karena hidup itu kan bukan hanya untuk diri sendiri,” ujarnya.

Posisi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dalam Arus Global

Sebagai organisasi yang hidup dan bertahan hingga lebih 1 abad, kontribusi ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah tentu tidak bisa diabaikan. Berbagai bidang telah menjadi fokus kerja, mulai dari pendi-dikan, kesehatan, kesejahteraan sosial, ekonomi, hingga manajemen pengelolaan bencana. Siti Syamsiatun menjelaskan, ada banyak isu yang semestinya dapat diperankan oleh ‘Aisyiyah karena organi-sasi perempuan memiliki peran yang signifikan. Isu tentang penghapusan kekerasan terhadap perempuan sendiri, ungkap Syamsiyatun, merupakan isu yang sudah lama digaungkan.

Usia Muhammadiyah-‘Aisyiyah yang mencapai lebih dari 100 tahun membuktikan bahwa organisasi ini memiliki tingkat kesolidan yang tinggi dan manfaat atas keberadaannya begitu dirasakan oleh masyarakat baik lokal hingga internasional. Kontribusi aktivis Muhammadiyah-‘Aisyiyah pun telah melintas batas. Sebut saja Rahmawati Husein yang kini menjabat sebagai penasihat bantuan kemanusiaan PBB. Rahmawati sebelumnya berkecimpung di Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC). Fokus pada peran-peran strategis dalam isu tata kelola bencana, Rahmawati kemudian diangkat menjadi bagian dari Badan Nasional Penganggulangan Bencana (BNPB). Hingga akhirnya pada tahun 2013 lalu, ia terpilih menjadi Steering Comitee (SC) untuk puncak pertemuan kemanusiaan dan menjadi wakil dari Asia Tenggara dan Asia Utara.

Tahun 2013 lalu, menurut Rahmawati, seluruh dunia berfokus pada localizing humanitarian action (melokalkan kerja-kerja kemanusiaan) dengan harapan kapasitas lokal dalam program kemanusiaan semakin meningkat. Maka keikutsertaan MDMC yang biasa bekerja di tingkat lokal pun semakin dibutuhkan. Menurutnya, hal ini dikarenakan pengurangan risiko dan respons akan lebih efektif bila dilakukan di tingkat lokal, dan dalam praktiknya, 70 persen kegiatan penanggulangan kebencanaan dilakukan oleh pihak lokal. Ia tak memungkiri bahwa Non Goverment Organization (NGO) internasional juga terlibat. Contohnya, saat tsunami Aceh tahun 2004, banyak NGO internasional yang terlibat langsung. Namun kini, NGO luar bertindak sebagai pendukung. “Pelaksanaan pengurangan risiko ataupun respons di tingkat lokal sudah jadi tren. Sekarang NGO internasional tugasnya sebagai komplemen pendukung. Mereka bertugas menguatkan dan membantu, bukan sebagai pemain utama.”

Baik Rahmawati dan Siti Syamsiyatun menilai bahwa ‘Aisyiyah perlu memaksimalkan potensinya untuk melebarkan sayap di kancah global. ‘Aisyiyah masih mengandalkan struktur organisasi di luar negeri dengan membuat Pimpinan Cabang Istimewa ‘Aisyiyah (PCIA), dan perlu menguatkan lagi keterlibatan di jaringan global. “Padahal peran ‘Aisyiyah dapat dilakukan di tingkat regional maupun global. Sebagai pelaku yang memiliki kapasitas, maupun sebagai perempuan yang merupakan kaum rentan yang menjadi isu dunia,” imbuh Rahmawati.

Untuk berperan di tingkat global, maka sebuah organisasi harus mengu-atkan jaringan. Rahmawati mencontohkan bagaimana MDMC memaksimalkan kerja jaringan ini di bidang kebencanaan, MDMC tidak mungkin bekerja sendiri. MDMC hanya satu dari sekian banyak pihak yang bekerja.

Rahma menengarai beberapa kendala keterlibatan ‘Aisyiyah dalam jaringan dunia, salah satunya adalah kendala bahasa. Menurut Rahmawati, banyak anggota ‘Aisyiyah yang berfokus pada bidang keahlian tertentu namun kurang menguasai bahasa internasional (bahasa Inggris) sehingga sulit untuk dilibatkan dalam pertemuan-pertemuan regional dan internasional. Atau sebaliknya, ada yang menguasai bahasa Inggris, namun tidak memiliki keahlian spesifik. “Kalau saya dari dulu fokus pada isu kebencanaan dan kemanusiaan. Saya hanya tahu isu itu. Jadi orang akan mencari saya ketika membutuhkan narasumber tentang program kemanusiaan sekaligus orang yang berkecimpung di organisasi keagamaan dan berperspektif perempuan.”

Sedangkan Siti Syamsiyatun melihat bahwa salah satu kultur, yaitu “banyak bekerja sedikit bicara” justru dapat menjadi kendala dalam mempercepat proses internasionalisasi organisasi ini. Me-nurutnya, ‘Aisyiyah memiliki potensi menjadi pionir di bidang kese-hatan di kancah global. Namun kultur tersebut dapat membuat apa yang sudah dilakukan ‘Aisyiyah di kancah nasional tidak tersiar dengan maksimal di kancah dunia.

“Sekarang eranya beda, sekarang orang harus pamer. Terlebih sudah difasilitasi oleh kehadiran media sosial. ‘Aisyiyah perlu membiasakan dengan kultur digital. Terkadang, jika mau viral, ada perasaan nggak sreg. Ada ketakutan justru keviralan itu menimbulkan riya. Padahal di sisi lain, banyak organi-sasi yang lebih muda, prestasi lebih sedikit, tetapi lebih banyak dikenal,” ujar Siti Syamsiatun.

Strategi Bersaing di Kancah Global

Untuk membuat ‘Aisyiyah semakin dikenal oleh masyarakat internasional, ada beberapa strategi yang dapat dilakukan.Pertama adalah dengan memanfaatkan media sosial. Disebutkan oleh Siti Syamsiatun, ‘Aisyiyah perlu woro-woro segala hal tentang ‘Aisyiyah, mulai dari sejarah hingga keberhasilan. Bentuk pengumuman ini dapat dibuat menjadi artikel atau infografis yang menarik. Selain itu, penggunaan bahasa dalam media sosial juga harus diperluas, yakni menggunakan bahasa Indonesia dan juga bahasa Inggris sehingga informasi dapat dijangkau oleh publik internasional.

Sedangkan Rahmawati menjelaskan strategi lain yang dapat diaplikasikan oleh ‘Aisyiyah adalah dengan menunjuk banyak orang sebagai LO untuk masuk jaringan, baik nasional maupun internasional. Wakil ini harus menguasai bidang tertentu yang ingin digarap serius oleh ‘Aisyiyah.

“Misal di jaringan sekolah. Maka harus ada wakil yang secara serius menyampaikan apa yang sudah dilakukan ‘Aisyiyah, apa tantangan yang dihadapi ‘Aisyiyah. Misalnya saja ‘Aisyiyah memiliki sekolah unggulan, maka pengalaman ini dapat dibagikan dengan komunitas internasional. Kita juga mendapat ilmu dari pertemuan-pertemuan itu,” Rahmawati mencontohkan.

Untuk masuk ke jaringan internasional, menurut Rahmawati, maka ‘Aisyiyah perlu mengirimkan anggota-nya aktif dalam jaringan nasional yang berlanjut ke jaringan regional (ASEAN) dan semakin meningkat. Dengan masuk ke dalam jaringan, tambahnya, sebuah organisasi juga dapat merasa tidak besar sendiri. 

Dengan menguatkan jaringan, maka orang luar tahu apa yang dilakukan oleh ‘Aisyiyah, bukan hanya internal warga persyarikatan. “Peran-peran besar perlu dimainkan oleh ‘Aisyiyah. Apa yang dilakukan ‘Aisyiyah selama ini sesungguhnya bisa dijadikan contoh negara lain. Misalnya dari aspek keberhasilan, kemampuan mengorganisir, bahkan ‘Aisyiyah sudah punya universitas sendiri. Tidak semua organisasi perempuan bisa seperti ‘Aisyiyah. Tetapi siapa yang tahu bahwa ‘Aisyiyah sudah seberhasil itu jika kita sendiri tidak memberi tahu?” pungkas Rahmawati. 

 

*Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Suara 'Aisyiyah Edisi 7, Juli 2019 pada hal 16-17

Shared Post:
Idea Terbaru
Berita Terbaru