'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Idea
Home » Idea
Komitmen Bernama Islam Wasathiyyah
27 November 2019 13:12 WIB | dibaca 76
oleh: Fikry

 

Reinvigorating the paradigm of wasatiyyat Islam as the central Islamic teaching and compassing seven main values: tawassut, positioning in the middle and straight path …,” ucap Utusan Khusus Presiden untuk Dialog antar Agama dan Peradaban (UKP-DAP) M. Din Syamsuddin.

Kalimat tersebut membuka naskah Bogor Message yang disepakati ratusan peserta Konsultasi Tingkat Tinggi (KTT) Ulama dan Cendekiawan Muslim di Bogor, Mei lalu. Pesan tersebut dibacakan Din sebagai komitmen para ulama dunia dalam mengaktifkan kembali Islam Wasatiyyat dengan tujuh nilai utamanya, yakni: tawassut, i’tidal, tasamuh, syura, islah, qudwah, dan muwatonah.

Makna ketujuh nilai tersebut dijelaskan dalam Bogor Message, seperti tawassut yang berarti posisi di jalur tengah dan lurus, i’tidal alias berperilaku proporsional dan adil dengan tanggung jawab, tasamuh yang bermakna mengakui dan menghormati perbedaan dalam semua aspek kehidupan, serta syura yang artinya bersandar pada konsultasi dan menyelesaikan masalah melalui musyawarah untuk mencapai konsensus. Lalu berikutnya ada nilai islah yaitu terlibat dalam tindakan yang reformatif dan konstruktif untuk kebaikan bersama, qudwah yang dimaknai merintis inisiatif mulia dan memimpin untuk kesejahteraan manusia, serta terakhir muwatonah atau mengakui negara bangsa dan menghormati kewarganegaraan.

Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Lailatis Syarifah mengatakan konsep Islam Wasathiyyah merupakan respon terhadap ekstremisme ideologi pasca Perang Dunia II. Penggunaan istilah tersebut muncul bersamaan dengan Revolusi Iran, untuk menggambarkan hubungan Dunia Islam dengan Barat. “Namun sebenarnya kata wasath bukanlah hal yang baru, karena kata ini terdapat dalam al-Quran,” ujar alumnus Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir ini.

Menurut Direktur Madrasah Muallimin Muhammadiyah Aly Aulia, juga alumnus al-Azhar, kata wasath dalam al-Quran mengandung beberapa pengertian. Mengutip pandangan mufassir Persia Fakhrudin Ar-Razi, ada empat pengertian wasath yakni adil, pilihan, yang paling baik, dan orang yang dalam beragama berada di tengah-tengah alias tidak berlebihan sehingga tidak membuat ajaran baru atau mengurangi ajaran agama. Lanjut Aly, sifat wasath yang disematkan pada umat Nabi Muhammad saw adalah sesuatu yang melekat pada mereka sejak menerima petunjuk dari nabinya tersebut. “Saat mereka konsisten menjalankan ajaran Allah, saat itulah mereka menjadi umat terbaik dan terpilih,” katanya.

Senada dengan pesan para ulama dunia tersebut, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dalam artikelnya mengutip pandangan Muhammad Az-Zuhaili yang mengartikan Islam Wasatiyyah berada dalam keseimbangan, istiqamah, adil, dan mudah; serta menjauhi ghuluw atau ekstrem. “Menurut Yusuf al-Qaradhawi, moderat dalam beragama ialah berada di tengah-tengah, tidak melebih-lebihkan atau mengurang-ngurangkan, berjalan lurus, dan menolak ekstremisme,” tulis Haedar dalam Muhammadiyah Gerakan Wasithiyah Berkemajuan.

Sifat Wasathiyyah Muhammadiyah

Sebagai gerakan yang mengusung paham Islam wasathiyyah atau mo-derat, lanjut Haedar, Muhammadiyah memiliki empat karakter. Pertama, paham Islam yang bersumber langsung pada al-Quran dan Sunnah Maqbulah disertai ijtihad akal pikiran. Dalam memahami sumber tersebut, Muhammadiyah menggunakan pendekatan bayani, burhani, dan irfani. Semuanya dilakukan dalam semangat tajdid yang berarti pemurnian (purifikasi) dan pengembangan (dinamisasi). “Dengan demikian, pandangan keagamaan Muhammadiyah mendalam, menyeluruh, dan tidak terjebak pada satu dimensi,” tuturnya.

Kedua, dalam akidah dan ibadah menganut paham pemurnian (tandhif al-‘aqidah wal ibadah) dengan membebaskan diri dari praktik syirik, khurafat, dan bid’ah sebagaimana paham ahlu-salaf. Meski demikian, ketegasan akidah tersebut diiringi sifat tidak ekstrem (ghuluw) dan menjunjung toleransi (tasamuh) sehingga tidak mengklaim diri paling Islami. Adapun dalam ibadah melakukan ittiba’ kepada Nabi dan menjauhi bid’ah, tidak menambah dan mengurangi apa yang dituntunkan Rasulullah berdasarkan dalil-dalil kuat hasil tarjih.

Ketiga, adalah sifat wasathiyyah di bidang akhlak dan muamalah-duniawiyah. Akhlak Muhammadiyah adalah akhlak yang mengikuti uswah hasanah Rasulullah serta tidak menganut paham akhlak situasional. Paham yang menyatakan norma berperilaku dapat berubah berdasarkan kehendak dan perkembangan masyarakat. Sedangkan dalam bidang muamalah-duniawiyah dikembangkan tajdid dinamisasi seluas-luasnya sesuai dengan prinsip ajaran Islam. Tidak ada konsep bid’ah dalam muamalah. “Berorganisasi mi-salnya, meskipun tidak ada contohnya zaman Nabi bukanlah bid’ah karena sepenuhnya wilayah muamalah-duniawiyah,” tulis Haedar.

Keempat, karakter wasathiyyah dalam berbangsa dan bernegara. Muhammadiyah memandang politik dan kehidupan bernegara termasuk urusan muamalah-duniawiyah. Oleh karena itu terbuka terhadap pembaruan, kreasi dan inovasi, dan banyak alternatif. Misalnya, Muhammadiyah menilai tidak ada format tunggal dalam bentuk negara yang diijtihadkan Islam, termasuk konsep dan adanya negara Islam. “Negara Islam atau negara Islami bentuk dan aktualisasinya beragam sesuai ijtihad umat Islam di suatu negara,” jelas Haedar.

Muhammadiyah berijtihad Indonesia yang berdasarkan Pancasila dapat disebut negara Islami (Darussalam) karena lima silanya sejalan dengan ajaran Islam, dan umat Islam ikut merumuskan dan mengesahkannya. Persyarikatan menetapkan Indonesia sebagai Darul ‘Ahdi Wa Syahadah (Negara Perjanjian/Kesepakatan dan Pembuktian – red).

Masih dalam koridor sifat wasath-iyyah dalam bidang kehidupan berbangsa dan bernegara, Muhammadiyah juga berijtihad tidak mengambil pendekatan perjuangan politik praktis. “Politik praktis menjadi tugas partai politik, sedangkan Muhammadiyah menjalankan tugas politik kebangsaan yang lebih proaktif sesuai Khittah Denpasar 2002,”. 

Shared Post:
Idea Terbaru