'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Idea
Home » Idea
Langkah-langkah Pemberdayaan Masyarakat untuk Mencegah Pernikahan Usia Anak
26 November 2019 12:33 WIB | dibaca 99
oleh: Msn

 

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang Telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.(Q.S. an-Nisa [4]: 1)

Memasuki jenjang pernikahan berarti membangun sebuah keluarga di atas fondasi yang harus kokoh. Pernikahan yang demikian mampu menghadirkan generasi penerus, penentu masa depan masyarakat dan bangsa. Permasalahannya sekarang adalah masih  tingginya angka pernikahan usia anak yang harus menjadi perhatian bersama oleh orang tua, masyarakat, dan pemerintah. Pernikahan usia anak banyak disebabkan karena tekanan ekonomi, keterpaksaan akibat KTD (kehamilan tidak dikehendaki), dan budaya masyarakat setempat. 

Masyarakat tertentu beranggapan bahwa menikahkan anak perempuan di usia belia merupakan suatu kehormatan bagi sebuah keluarga sehingga  pernikahan usia anak dianggap hal yang wajar. Pada era kemajuan teknologi pernikahan usia anak yang terjadi karena keterpaksaan semakin meningkat jumlahnya. Keluarga terpaksa menikahkan anaknya yang belum memenuhi syarat usia nikah, bahkan masih tergolong anak-anak karena KTD. Selain itu, faktor himpitan ekonomi juga mendorong banyak keluarga segera menikahkan anaknya. Hal tersebut dilakukan sebagai pe-ngalihan tanggung jawab beban ekonomi orang tua kepada suami anaknya.

Menghadapi fenomena di atas diperlukan langkah-langkah bijak sebagai solusi untuk mengurangi tejadinya pernikahan usia anak. Upaya tersebut dilakukan sesuai dengan faktor-faktor penyebabnya.

Pertama,pada pernikahan usia anak yang disebabkan faktor budaya, perlu upaya mengubah cara pandang bahwa nikah usia anak merupakan gengsi. Orang tua sangat perlu mempertimbangkan kesiapan dalam menghadapi kehi-dupan rumah tangga yang sarat tantangan. Secara umum masyarakat yang bercorak demikian perlu pendidikan tentang seluk-beluk pernikahan dini dengan berbagai risiko-nya, tentang usia seseorang mengalami  perkembangan fisik yang sempurna, kematangan dari segi  psikis, emosional, serta perlunya kecukupan ekonomi  dalam membentuk sebuah keluarga yang tangguh.

Kedua, pada pernikahan usia anak yang disebabkan faktor keterpaksaan karena hubungan sudah terlalu dekat atau terjadinya kehamilan, perlu dilakukan pendampingan terhadap keluarga, dan pasangan pernikahan usia anak serta pendekatan kepada masyarakat, di antaranya tentang (i) cara mengelola konflik dalam keluarga terutama pada masa-masa awal pernikahan, tentang pengasuhan anak, dan (ii) pembekalan skill/keterampilanagar dapat digunakan untuk mengatasi kemelut keluarga dalam masalah ekonomi yang biasa dihadapi oleh keluarga baru. Jika masih dalam usia sekolah, anak diberi kesempatan untuk melanjutkan sekolah/pendidikan ke jenjang yang memadai sesuai dengan potensi yang dimiliki sehingga mereka mampu mandiri. 

Ketiga, pada pernikahan usia anak yang disebabkan faktor himpitan ekonomi, perlu upaya penyadaran kepada para orang tua bahwa pernikahan usia anak bukan solusi  problem ekonomi keluarga tanpa mempertimbangkan kerawanan dari berbagai segi yang dihadapi oleh anak. Selain itu, perlu dilakukan langkah nyata, antara lain (i) pemberdayaan  masyarakat berbasis keluarga berupa berbagai usaha peningkatan pendapatan keluarga; (ii) diselenggarakannya berbagai pendidikan keterampilan;  dan (ii) menumbuhkan etos kerja terutama di kalangan pemuda dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat.

Karena banyaknya problem akibatmaraknya pernikahan usia anak, termasuk meningkatnya angka perceraian, timbulnya penyakit akibat rendahnya pemahaman tentang kesehatan reproduksi, dan kerawanan lainnya, ‘Aisyiyah Daerah, Cabang dan Ranting hendaknya bersama-sama dengan masyarakat dan pemerintah melakukan sosialisasi pence-gahan pernikahan anak melalui berbagai kegiatan warga. Kegiatan itu di antaranya (i) dalam pengajian menjadi salah satu muatan dalam materi khutbah; (ii) pendampingan dan advokasi; serta (iii) penyuluhan terhadap warga masyarakat termasuk remaja dan siswa SMP/SMA/lainnya. Materi tersebut diharapkan memberi pemahaman mengenai kese-hatan reproduksi; kewirausahaan; perlunya mewujudkan keluarga utuh dan tangguh; menjadi generasi yang saleh dan berkualitas; pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan; kiat mewujudkan masyarakat yang maju dan bermartabat;   serta mengadakan gerakan penundaan usia nikah anak. 

Shared Post:
Idea Terbaru