'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Idea
Home » Idea
Pengembangan Daya Sosial dengan Pendekatan Rahmah dalam Keluarga
29 November 2019 13:58 WIB | dibaca 52
oleh: Susilaningsih Kuntowijoyo
Sumber Foto : https://ummuhabibah.com2
 
Kemampuan hidup bermasyarakat merupakan tuntutan yang harus dimiliki oleh seseorang sebagai anggota suatu masyarakat. Kemampuan tersebut merupakan produk dari proses sosialisasi yang terkait dengan hubungan sosial semenjak usia dini yang dimulai dalam keluarga dan dilanjutkan dalam hubungan sosial di lingkungan masyarakatnya.  Bentuk atau pola hubungan sosial masing-masing individu juga dipengaruhi oleh bentuk dan pendekatan proses sosialisasi dalam keluarga, apakah hubungan sosial itu didasarkan pada kepentingan pribadi atau untuk kepentingan pihak lain, ataukah menggunakan pendekatan otoriter atau demokratis. Produk sosialisasi dalam keluarga tersebut semestinya dapat  membentuk daya sensitivitas dan tanggungjawab sosial.  Oleh karena itu keluarga mempunyai peran penting dalam membentuk dan mengembangkan kemampuan serta pola hubungan sosial anggota keluarganya.

Manusia sebagai makhluk sosial semenjak lahir telah dikaruniai fitrah atau potensi untuk mampu bersosialisasi. Dalam Islam dikatakan bahwa potensi bersosialisasi itu merupakan wujud dan modal dari fitrah manusia sebagai khalifah Allah di bumi {Q.S. Al-Baqarah (2) : 30}. Namun tanpa peran aktif keluarga untuk mengembangkan potensi daya sosial dengan pendekatan yang tepat maka potensi tersebut tidak dapat berkembang secara semestinya. 

Di era digital ini ada ancaman berupa melemahnya daya sensitivitas sosial seseorang. Masing-masing individu terdorong untuk sibuk dengan gawai dan perangkat komunikasi digitalnya, baik di tempat kerja maupun di rumah, bahkan ketika para  anggota  keluarga  sedang sama-sama  berada di dalam rumah. Di masa kini kebutuhan penggunaan gawai dan perangkat komunikasi digital  memang tidak terhindarkan. Oleh karena itu diperlukan usaha agar daya sensitivitas sosial tetap dapat berkembang sebagaimana mestinya, sehingga manusia era digital tetap dapat berperan sebagai khalifah Allah di bumi. Salah satu alternatifnya adalah dengan pendekatan rahmah dalam pengembangan daya sosial melalui keluarga. Pendekatan rahmah yang mengacu pada sifat Allah Yang Maha Rahman, yang mengaruniai rahmat pada seluruh makhluk.  

Pendekatan Rahmah dalam Pengembangan Daya Sosial

Pendekatan rahmah dalam pengembangan daya sosial adalah pendekatan agar daya sosial dapat berkembang ke arah yang dapat memberi kemanfaatan dalam hubungan kemanusiaan. Di atas telah disebutkan bahwa dalam Islam esensi dari potensi sosial merupakan modal bagi manusia untuk mengemban tugas sebagai khalifah di bumi,  agar hubungan sosialnya dapat memberi kemanfaatan bagi manusia. Namun manusia juga mempunyai potensi untuk memenuhi kebutuhan fisiknya yang berupa nafsu (syahwat) yang kemudian berkembang menjadi sifat mementingkan diri sendiri (ego). Dalam al-Quran dinyatakan bahwa nafsu demikian itu cenderung kepada kejahatan, kecuali yang diberi rahmat Allah {surat Yusuf (12) :53}. Maka daya sosial yang dimiliki seseorang cende-rung berkembang untuk memenuhi kebutuhan pribadinya, dan bahkan dapat merugikan orang lain. Dengan penerapan pendekatan rahmah dalam keluarga diharapkan daya sosial anggota keluarga semenjak usia dini  dapat berkembang ke arah kemanfaatan manusia secara umum.

Pendekatan rahmah, pendekatan yang mengandung kelembutan, adalah pendekatan cinta yang diterapkan dalam pembinaan keluarga. Pendekatan rahmah bersumber dari sifat Allah Ar-Rahman dan Ar-Rahim,  Yang Maha Rahman dan Maha Rahim, yang  rahmatNya meliputi segala sesuatu {Q.S. al-A’raf (7) : 156}. Allah memiliki sifat kasih sayang pada diriNya, mengampuni orang yang telah berbuat kejahat-an karena kebodohannya kemudian mau bertobat {Q.S. al-An’am (6) ; 54}. Rahmat Allah adalah kasih sayang yang tiada batas (Quraish Shihab, Menyingkap Tabir Ilahi : Asma al Husna dalam Perspektif Al-Quran, 1998).

Rahmat Allah juga dicurahkan kepada makhluk perempuan melalui karuniaNya berupa rahim, baik pada manusia maupun juga binatang. De-ngan keberadaan rahim itu perempuan mengandung anaknya dengan penuh kasih sayang, melahirkan, dan membesarkannya dengan cinta tanpa batas. Dengan bermodal rasa kasih sayang itu perempuan mampu berkorban demi kesejahteraan, kebahagiaan, dan kese-lamatan anaknya. Secara psikologis rasa cinta dan kasih sayang makhluk perempuan terhadap anaknya itu disebut unconditioned love, cinta tanpa syarat.

Dengan kasih sayang ibu yang tercurahkan secara tepat, dikombinasikan dengan kasih sayang ayah yang lebih cenderung mengandung ketegasan,  akan menumbuhkan  rasa percaya diri serta rasa  cinta dan kasih sayang pada anak-anaknya yang bila dikembangkan akan menjadi sifat kasih sayang kepada sesama manusia. Selanjutnya kasih sayang kepada sesama itu akan menumbuhkan sifat mudah menerima keberadaan orang lain dengan rasa empati atau peduli, pemaaf, sabar, serta dorongan untuk menolongnya. Dengan bermodalkan rasa kasih sayang, manusia akan tumbuh dan berkembang sebagai makhluk individu yang percaya diri dan mandiri serta mampu hidup bermasyarakat dengan penuh rasa damai, siap bekerjasama serta membantu orang lain.

Selanjutnya manusia dapat memiliki sikap mandiri dengan daya sosial yang tinggi, dua sifat dan sikap yang dapat menjadi modal manusia untuk tumbuh dan berkembang sehat secara individual dan sosial.  Semua kondisi tersebut bersumber dari adanya rahmat
Allah yang dicurahkan kepada makhluk, dan secara khusus kepada manusia. Oleh karena itu rahmah atau rasa cinta dan kasih sayang semestinya menjadi pendekatan dalam menumbuh-kembangkan setiap individu, khususnya adalah menumbuh-kembangkan  daya sosial. 

Pendekatan Rahmah dalam Sosial Melalui Keluarga

Keluarga mempunyai tanggung jawab penuh untuk menerapkan pendekatanrahmah dalam membangun daya sosial. Daya sosial  merupakan modal bagi individu untuk hidup bermasyarakat  baik dalam keluarga maupun masyarakat luas. Daya sosial adalah kecenderungan untuk ingin mendekatkan diri dan berkomunikasi dengan orang lain, dan seseorang dapat merasa kurang nyaman dengan ketiadaan orang lain.

Di satu sisi daya sosial dapat menumbuhkan dorongan untuk memperhatikan dan peduli pada orang lain. Akan tetapi di sisi lain daya sosial juga dapat menumbuhkan sikap ketergantungan terhadap orang lain, serta keinginan untuk memanfaatkan orang lain bagi kenyamanan atau kepenting-an diri sendiri. Hal yang disebut terakhir ini dapat menimbulkan sikap penolakan dari lingkungan sosial. Oleh karena itu perkembangan daya sosial  harus diiringi dengan pengembangan kemandirian, yang bermodalkan pada penumbuhan rasa percaya diri. Daya sosial mestinya berkembang ke arah kemampuan untuk bersikap dan berperilaku yang dapat diterima oleh lingkungan sosialnya, serta dapat menguatkan dan memberdayakan lingkungan sosialnya.

Pendekatan rahmah mengandung beberapa unsur perasaan yaitu empathy atau peduli pada orang lain,  altruisme atau dorongan untuk membantu orang lain, dan dorongan untuk merasa kasihan atau  memaafkan orang lain. Tiga unsur  keadaan jiwa tersebut merupakan modal bagi manusia untuk hidup dalam lingkungan sosial secara produktif dan nyaman. Dengan pendekatan itu diharapkan perkembangan sosial individu dapat bermanfaat bagi dirinya serta lingkungan sosialnya.

Empathy adalah kecenderungan untuk memahami perasaan dan penderitaan orang lain seakan-akan dirinya yang merasakan, sehingga mendorong pada rasa peduli pada orang lain. Empathy juga mendorong seseorang untuk mudah memaafkan kesalahan orang lain. Altruisme adalah kelanjutan dari rasa empathy, yaitu dorongan untuk membantu orang lain secara suka rela dan penuh keikhlasan, bahkan kadang-kadang tanpa memperhatikan kondisi diri sendiri. Altruisme menjadi modal bagi berkembangnya kemampuan diri untuk memberdayakan orang lain serta untuk melawan sikap egoisme. Rasa empathy dan altruisme adalah bagian dari kecerdasan emosi (Daniel Goleman, 1996) yang sangat diperlukan bagi kesehatan jiwa manusia.

Pengembangan daya sosial dengan pendekatan rahmah yang mengandung unsur empathy dan altruisme perlu ditumbuh-kembangkan semenjak usia dini melalui proses pengasuhan, sampai usia remaja dan dewasa. Banyak cara dapat dilakukan untuk menumbuh-kembangkan rasa empathy dan altruisme, misalnya dengan melatih kepekaan terhadap keadaan lingkungan sekitar di manapun berada. Saat bepergian misalnya, anak dibiasakan untuk memperhatikan orang-orang yang kondisinya kurang atau lemah dari segi harta ataupun fisik dan diusahakan untuk memberi bantuan, misalnya menolong orang yang terjatuh, atau ingin menyeberang jalan tetapi ragu-ragu. Kemudian anak diajak bersyukur de-ngan keadaan yang dimilikinya. Anak juga dibiasakan untuk mengucapkan terima kasih ketika memperoleh suatu kebaikan dan meminta maaf bila telah bertindak atau berucap yang merugikan orang lain.

Bagi remaja perlu didorong dan dibiasakan terlibat pada kegiatan-kegi-atan sosial di lingkungan masyarakat  sekitarnya maupun di sekolah. Pada era digital ini bahkan para remaja dapat diarahkan untuk menggunakan gawai atau ponselnya sebagai sarana untuk membuat kelompok remaja yang peka terhadap permasalahan sosial seperti mengumpulkan dana membantu korban bencana.  Pembiasaan sejak usia dini itu akan membentuk sensi-tivitas sosial yang mendasari kehidupan selanjutnya.

Poses pengenalan dan pembentuk-an sensitivitas sosial pada anak dan remaja itu  perlu juga dikaitkan dengan sumber-sumber Islam tentang kehidupan bermasyarakat baik dari ayat al-Quran maupun Hadis. Di antaranya adalah yang tercantum dalam al-Quran surat Al-Hujurat (49) ayat 13, dan surat At-Taubat (9) ayat 71. Ataupun dari buku-buku yang terkait, misalnya buku “Tuntunan Menuju Keluarga Sakinah” yang diterbitkan oleh Suara Muhammadiyah.    

Pendekatan rahmah adalah pendekatan yang terkait dengan emosi atau perasaan. Satu hal  yang perlu diingat adalah emosi itu dapat menular, baik emosi positif maupun negatif. Emosi positif yang muncul dari suasana gembira, menyenangan, dan semangat akan mendukung keefektifan proses pengembangan daya sosial dan kejiwaan secara umum. Sebaliknya emosi negatif yang ditimbulkan oleh suasana yang penuh ancaman dan kemarahan dapat mengurangi efektifitas proses pengembangan daya sosial. Oleh karena itu dalam pengembangan daya sosial baik pada anak, remaja, maupun orang dewasa, dalam keluarga,  sekolah, maupun masyarakat luas perlu menggunakan strategi yang membawa kepada suasana menye-nangkan dan semangat. Hal tersebut dapat juga diterapkan pada kegiatan-kegiatan lain terkait dengan hubungan sosial. Semoga bermanfaat.

Shared Post:
Idea Terbaru