'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Idea
Home » Idea
Peran Pendidikan Muhammadiyah dalam Menebarkan Islam sebagai Rahmatan Lil'alamin
30 November 2019 10:00 WIB | dibaca 54
oleh: Dr. Tasman Hamami, MA. (Wakil Ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Pimpinan Pusat Muhammadiyah)

Sumber Foto : http://www.suaramuhammadiyah.id

 

Islam yang bersumber pada al-Qur’an  dan as-sunnah adalah agama yang senantiasa menyemaikan benih-benih kebenaran, kebaikan, kedamaian, keadilan, kemaslahatan, kemakmuran dan keutamaan hidup secara dinamis, bukan hanya bagi umat Islam, melainkan bagi seluruh umat manusia. Prinsip-prinsip ajaran Islam, misalnya berbuat baik, berdamai, bersikap adil, menolong dan keutamaan-keutamaan lainnya  bukan hanya ditujukan kepada umat Islam, tetapi juga kepada siapa saja. Islam menjunjung tinggi kemuliaan manusia, baik laki-laki maupun perempuan tanpa diskriminasi.

Ajaran keutamaan dalam Islam memayungi semua umat manusia tanpa memandang suku bangsa, ras, golongan dan kebudayaan, maupun agama. Sebab keutamaan dan kemuliaan ajaran Islam itulah sehingga kehadirannya merupakan rahmat bagi segala makhluk di muka bumi. Apabila dalam realitas kehidupan ini, termasuk di tanah air, ternyata masih banyak terjadi kasus tindak kekerasan,  kezaliman, ketidakjujuran, dan perilaku negatif lainnya, dapat dipastikan bahwa tindakan seperti itu bukan merupakan ajaran Islam. Dalam ajaran Islam terdapat suatu prinsip dasar mengutamakan kedamaian, kebaikan, dan kemanfaatan secara luas bagi siapapun. Prinsip ini didasarkan pada inti risalah yang dibawa oleh Rasulullah saw., yaitu Islam sebagai rahmatan lil’alamin, sebagaimana ditegaskan al-Qur’an surat al-Anbiya’ ayat 107, bahwa “tiadalah kami mengutusmu (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam”.

Penegasan dalam ayat itu berkaitan dengan misi Rasulullah saw yaitu membawa ajaran-ajaran Islam untuk  menebarkan rahmat bagi seluruh alam semesta ini. Islam yang diajarkan  oleh Rasulullah saw merupakan benih-benih kebaikan, keutamaan, dan kesejahteraan bagi kehidupan manusia. Menurut Ibnul Qayyim, orang yang mengikuti Rasulullah saw akan meraih kemuliaan di dunia dan akhirat sekaligus. Ibnu Katsir juga menjelaskan bahwa Allah mengutus Nabi Muhammad saw  sebagai rahmat untuk manusia sekalian, sehingga siapapun yang menerima dan mengikutinya, niscaya dia akan berbahagia di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, siapapun yang menolak dan menentangnya, pasti dia akan merugi hidupnya baik di dunia maupun di akhirat.

Buya Hamka, dalam Tafsir al-Azhar,  mengutip pendapat  Sayid Qutub dalam tafsir “fi dhilal al-Qur’an” menjelaskan bahwa ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw.  adalah sistem yang membawa kebahagiaan manusia seluruhnya dan memimpinnya kepada kesempurnaan yang dituju dalam hidup ini. Risalah  Islam selalu sesuai dan terbuka untuk segala zaman dan generasi.  Syariat Islam yang merupakan rahmat bagi seluruh alam telah mengeluarkan manusia dari lingkungan yang sempit, menjadi bangsa yang besar dan berperadaban, serta keluar dari kegelapan kepada kehidupan yang terang benderang. Pemahaman ajaran Islam tersebut menunjukkan bahwa Islam merupakan agama yang berkemajuan dan senantiasa sesuai dengan kehidupan sepanjang zaman dan di manapun berada. Hakekat Islam berkemajuan adalah manifestasi dari ajaran Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Misi Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin dalam pemahaman Muhammadiyah bersifat dinamis dan berkemajuan, sehingga kehadirannya sesuai dengan alam perkembangan kehidupan manusia. Kiyai Ahmad Dahlan, Sang Pendiri Muhammadiyah, memandang bahwa kebenaran dan kebaikan ajaran Islam ketika memberi manfaat bagi orang banyak, tidak terbatas hanya dinikmati oleh golongannya sendiri, tetapi bagi seluruh umat manusia. Muhammadiyah yang berdiri sejak tahun 1912 telah menjadi pelopor gerakan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin yang berkemajuan. Karena itu menurut Munir Mulkhan, praktik keagamaan Islam dalam bidang sosial di Indonesia, boleh disebut sebagai kepanjangan (eksemplar) apa yang di masa lalu dipelopori oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan. Kyai Haji Ahmad Dahlan-lah yang memelopori berbagai tradisi sosio-ritual Islam di negeri ini yang tidak ditemukan padanannya di berbagai belahan dunia di antara negeri-negeri muslim. Tradisi sosio-ri-tual ialah kegiatan sosial sebagai bentuk dari pengabdian ibadah kepada Allah, seperti pembinaan kesehatan, pendidikan, santunan sosial, dan kedermawanan sosial (filantropi).

Muhammadiyah sebagai organisasi Islam terbesar memiliki pola pikir (na-lar) gerakan, dalam mencapai tujuannya yakni menjunjung tinggi ajaran Islam, serta menciptakan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Gerakan-gerakan Muhammadiyah ini dapat dicermati dengan didirikannya PKU (penolong kesengsaraan umum), sekolah-sekolah, madrasah-madrasah, dan panti asuhan Muhammadiyah. Semua gerakan sosial (filantropi) ini  dipahami Kyai Haji Ahmad Dahlan sebagai ruh spirit Keislaman rahmatan lil ‘alamin yang berkemajuan, dan menjadi titik tolak di mana Muhammadiyah bergerak dan hadir untuk manusia dan kemanusiaan.

Bagi ‘Aisyiyah, isu gender yang sekarang menjadi isu utama dalam berbagai aspek kehidupan bukan hal yang baru. Karena dalam kehidupan kaum perempuan, peran ‘Aisyiyah selaku organisasi otonom khusus Muhammadiyah telah dimulai sejak satu abad yang lalu. ‘Aisyiyah memiliki peran besar  dalam memelopori bangkitnya perempuan Islam dan ikut membidani lahirnya Kongres Perempuan Indonesia  Pertama tahun 1928. Oleh karena itu, ‘Aisyiyah merupakan tonggak penting dalam memberi warna Islam yang berkemajuan.

Peranan Muhammadiyah dalam pendidikan di Indonesia juga sangat signifikan. Gagasan mengentaskan rakyat Indonesia dari kebodohan dan keterbelakangan telah dirintis oleh KH. Ahmad Dahlan pada 11 Desember 1911. Ketika itu,  Beliau mendirikan  Madrasah Diniyah al-Islamiyah dengan format baru yaitu pendidikan modern yang holistik-integratif. Sistem pendidikan yang dipeloporinya menyerap nilai-nilai kependidikan Islam pesantren yang berbasis ilmu-ilmu keagamaan. Namun, menurut KH. Ahmad Dahlan, sistem tersebut dipandang tidak cukup mampu menjawab persoalan-persoalan yang muncul akibat arus baru mo-dernisme pada awal abad ke-20. Oleh karena itu, muncullah gagasan mo-
dernisasi sistem pendidikan Islam yang memadukan ilmu agama dan ilmu umum secara terintegrasi. Pendidikan modern yang dirintis dan dikembangkan KH. Ahmad Dahlan terus berinovasi menjadi bentuk sekolah dan madrasah modern.

Kehadiran dan peran pendidikan  Muhammadiyah bukan hanya dirasakan oleh umat Islam, melainkan bagi seluruh manusia tanpa memandang perbedaan agama. Di antara peran pendidikan Muhammadiyah dalam mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin yang berkemajuan adalah sikap adil dan toleran Muhammadiyah terhadap siswa-siswa sekolah Muhammadiyah yang beragama lain. Sekolah-sekolah Muhammadiyah, terutama  yang berada di daerah mayoritas non Muslim, menjadi tempat belajar bagi siswa pemeluk agama lain, misalnya di  SMA Muhammadiyah Ende dan SMP Muhammadiyah Serui. Di sekolah ini, para murid Kristen diberikan mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen yang diajarkan oleh seorang guru beragama Kristen pula. Bahkan, di sekolah Muhammadiyah Ende, mata pelajaran ini sudah diberikan sejak 1971, jauh sebelum undang-undang yang mengharuskan adanya pelajaran agama yang sesuai dengan agama masing-masing siswa dikeluarkan pada 2003.

Kebijakan yang dilakukan oleh Muhammadiyah dalam memberikan layanan pendidikan sebagai rahmatan lil ‘alamin yang berkemajuan adalah fakta yang menjadi bukti bahwa Muhammadiyah adalah pelopor ketaatan pada Undang-undang RI dan pelopor toleransi di Indonesia. Pertanyaannya adalah, adakah sekolah-sekolah non Muslim yang memberikan pelayanan pendidikan agama Islam bagi siswa-siswa muslim dan diajarkan oleh guru yang beragama Islam? Selama ini, para siswa muslim yang belajar di sekolah-sekolah non muslim tidak mendapatkan haknya untuk mendapatkan pendidikan agama Islam sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 12, ayat (1) huruf a. Ironisnya, pemerintah sebagai pelaksana undang-undang tersebut membiarkan sekolah-sekolah yang melanggar undang-undang tersebut. Catatan penting dari uraian di atas adalah pendidikan Muhammadiyah di Indonesia merupakan pilar utama penegak dan pelopor gerakan toleransi, serta Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin yang berkemajuan.

Shared Post:
Idea Terbaru