'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Idea
Home » Idea
Perempuan Menjadi Agen Perdamaian
28 November 2019 13:02 WIB | dibaca 94
oleh: Fikry

 

Kasus kekerasan mengatasnamakan agama yang melibatkan perempuan, bukanlah fenomena umum perempuan muslim di Indonesia. Sejatinya, perempuan merupakan agen paling manjur dalam mengusung perdamaian.

Survei nasional tentang  Tren Sosial Kegamaan di Kalangan Perempuan Muslim, menyimpulkan perempuan sebagai aktor strategis dalam upaya penguatan toleransi dan perdamaian. Perempuan yang setuju dengan pernyataan bahwa warga negara Indonesia bebas menjalankan keyakinannya masing-masing, lebih besar jumlahnya dibanding laki-laki. Sebanyak 80,7 % responden perempuan memiliki sikap tersebut, dibandingkan dengan  laki-laki yang hanya 77,4 %.

Alasan kedua perempuan lebih strategis menjadi agen perdamaian karena perempuan lebih tidak bersedia menjadi radikal dibanding laki-laki. Dalam angka potensi dan tindakan radikalisme sosial keagamaan, perempuan mendapat skor 11,1, sedang-kan laki-laki 13,7. Maksudnya, semakin mendekati nol semakin tidak radikal. Sebaliknya, semakin mendekati 100 semakin radikal. “Potensi radikalisme adalah partisipasi dan kesediaan berpartisipasi dalam tindakan dan gerakan yang menyertakan kekerasan atas nama agama,” tulis laporan tersebut mendefinisikan radikalisme pada penelitiannya.

Temuan penting berikutnya adalah bahwa perempuan memiliki lebih sedikit kelompok yang tidak disukai dibanding laki-laki. Berangkat dari hal tersebut, disimpulkan juga bahwa jumlah perempuam, yang intoleran lebih sedikit dari laki-laki. Untuk menghindari kesalahpahaman, tim riset membatasi pengertian intoleran-si sebagai sikap dan tindakan yang bertujuan menghambat pemenuhan hak kewarganegaraan yang dijamin konstitusi.

Menanggapi temuan tersebut, Ketua LPPA PP ‘Aisyiyah Alimatul Qibtiyah, mengamini bahwa perempuan lebih mudah menjadi agen nilai-nilai perdamaian. Perempuan dinilai demikian karena aspek perasaan atau emosional yang mewarnai aspek pikiran atau rasionalnya. Aspek perasaan tersebut cenderung mendasari sikap dan tindakan perempuan yang lebih peduli dan tidak merusak. “Maka banyak istilah yang disandarkan secara filosofis kepada perempuan atau ibu, the mother oh the earth (ibu bumi), ibu pertiwi, misalnya,” ujar Wakil Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga tersebut.

Anggota Lembaga Penelitian dan Pengembangan ‘Aisyiyah (LPPA) PP ‘Aisyiyah Siti Syamsiyatun pernah meneliti respon warga Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah terhadap mantan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Kotagede. Ia menemukan perempuan atau warga ‘Aisyiyah lebih cepat melakukan rekonsiliasi sipil, sosial, dan kultural dengan warga eks PKI. Sebaliknya, bapak-bapak Muhammadiyah tidak mudah menerima kembali warga eks PKI tersebut. “ ‘Aisyiyah lebih cepat merangkul,” jelas Syamsiatun.

Penelitian tersebut semakin mempertegas bahwa perempuan lebih mudah dan strategis untuk mengusung nilai dan perilaku perdamaian. Menurutnya, secara biologis dan praktik di kehidupan sehari-hari, perempuan lebih banyak dikondisikan untuk memelihara kehidupan. “Perempuan bisa hamil, saat ketika perempuan memelihara kehidupan yang ada dalam rahimnya,” tambah alumnus Monash University, Australia ini.

Menjadikan perempuan sebagai agen perdamaian bukan tanpa tantangan. WF dan UN Women dalam risetnya menilai pemberdayaan perempuan dan pengarusutamaan gender di kalangan perempuan muslim belum maksimal. Misalnya, kemerdekaan perempuan dalam mengambil keputusan dalam hidupnya belum sepenuhnya otonom, terutama dalam memilih pandangan keagamaan.

Dalam riset tersebut digunakan empat indikator yakni: memilih pasangan (suami), pilihan politik, memilih untuk bekerja atau tidak, dan memilih pandangan keagamaan. Pada tiga indikator pertama, perempuan relatif merdeka dalam menentuakn pilihan: memilih pasangan (79,5 % otonom), pilihan politik (68 %), dan pilihan bekerja atau tidak (62,6 %). Namun hanya 37,6 % perempuan yang memilih pandangan keagamaan berdasarkan keyakinannya sendiri, sisanya bergantung.

Angka tersebut menegaskan analisis Lies Marcoes Natsir yang mengatakan faktor ideologis (termasuk pandangan keagamaan) menjadi sebab keterlibatan perempuan dalam aksi-aksi kekerasan yang mengatasnamakan agama.

Dalam Pernyataan Pikiran Satu Abad-nya, ‘Aisyiyah telah menyadari bahwa perkara ideologis masih menjadi bagian yang penting dalam denyut nadi gerakannya. Hal itu tercermin pada visi perjuangannya di abad kedua: pertama, mengembangkan Islam yang berkemajuan, kedua, mengembangkan gerakan pencerahan, dan ketiga, mengembangkan perempuan berkemajuan.

Islam berkemajuan merupakan visi keislaman yang diusung bersama organisasi induknya, Muhammadiyah. Dalam kajian akademik, Islam yang berkemajuan kerap disebut Islam Mo-dernis oleh Deliar Noer misalnya, atau Islam Reformis menurut Alfian. Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir sendiri dalam beberapa tulisannya lebih mengasosiasikan Islam yang berkemajuan sebagai Islam Wasi-
thiyyah
atau tengahan.

Salah satu terjemahan dari ketiga visi tersebut adalah program Madrasah Perempuan Berkemajuan (MPB) yang diinisiasi oleh LPPA. Siti Syamsiyatun menjelaskan MPB dapat menjadi benteng ideologis bagi warga ‘Aisyiyah dari ideologi-ideologi yang bertentangan dengan persyarikatan. MPB melakukan penguatan dan pengenalan tentang Manhaj Muhammadiyah, Karakter Perempuan Islam Berkemajuan, Gender dalam Islam, Konsep Gender Muhammadiyah, posisi ‘Aisyiyah di tengah gerakan perempuan lain, hingga teknik advokasi, pemberdayaan, dan pengorganisasian perempuan. “Ini yang ingin kita kuatkan dan kenalkan ke luar,” ujar Syamsiyatun. 

Shared Post:
Idea Terbaru