'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Idea
Home » Idea
Radikal karena Hidup yang Timpang
27 November 2019 13:39 WIB | dibaca 103
oleh: Fikry

Keterlibatan perempuan dalam aksi-aksi kekerasan bersenjata sudah berlangsung sejak lama. Jauh sebelum menjadi pelaku, perempuan telah lama menjadi korban aksi teror dan kekerasan. Musdah Mulia dalam Perempuan dalam Gerakan Terorisme di Indonesia mengamati tren tersebut telah berlangsung sejak tahun 1917 di Amerika Serikat (AS), saat para aktivis perempuan mendapat serangan teror dan kekerasan. Ketika itu para perempuan memperjuangkan haknya sebagai warga negara agar diperbolehkan mengikuti pemilihan umum. Namun alih-alih diterima, mereka malah ditangkap dan dianiaya secara keji di penjara, setelah melancarkan aksi protesnya tersebut. Di sana, tragedi ini diperingati sebagai The Night of Terror.

Di samping menjadi korban langsung, perempuan juga kerap menjadi korban tak langsung dari aksi terorisme. Aksi brutal 11 September turut membuat perempuan muslim, khususnya di Barat, lekat dengan citra negatif. “Sebagian mereka mendapat perlakuan diskriminatif atau perundungan di masyarakat hanya karena menggunakan jilbab,” ujar Aggota Komisi Kebudayaan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) tersebut.

Kasus di Nigeria lain lagi. Pada tahun 2014, kelompok garis keras Boko Haram dilaporkan menculik ratusan siswi dalam aksinya. Di antara mereka ada yang disekap dan diancam untuk memenuhi syahwat para relawan kelompok tersebut, hingga dipaksa untuk menjadi pelaku bom bunuh diri.

Dari korban, perempuan berevolusi menjadi pelaku. Doktor Pemikiran Politik Islam dari UIN Syarif Hidayatullah itu mencatat beberapa yang pernah terjadi ialah sosok Vera Zasulich. Ia merupakan perempuan Rusia yang tercatat sebagai anggota kelompok revolusioner Narodnaya Volya. Di akhir abad ke-19 dirinya melakukan percobaan pembunuhan terhadap Gubernur Saint Petersburg. Dalam persidangan bahkan ia mengaku dengan bangga bahwa dirinya adalah teroris. Meski demikian Vera dielu-elukan sebagai pahlawan publik karena berani melawan ketidakadilan sosial yang dipraktikkan penguasa saat itu.

Selain di Rusia, ada juga kelompok Irish Republican Army (IRA) di Irlandia Utara yang menuntut kemerdekaan penuh dari Kerajaan Inggris. Tahun 1973, kelompok ini pernah melancarkan aksi kekerasan dengan aktor utamanya dua orang perempuan: Marian Price dan saudara kandungnya, Dolours. Mereka dijatuhi hukuman seumur hidup atas pengeboman di Old Bailey yang menyebabkan 216 orang luka-luka dan satu orang tewas.

Pengajar FISIP UIN Jakarta Debbie Affianty mengelompokkan keterlibatan perempuan dalam tiga bentuk. Pertama adalah keterlibatan sebagai pengikut dan pendamping setia para laki-laki pelaku teror. Masih dalam kategori ini juga perempuan berperan sebagai ibu dan calon ibu dari pelaku teror. “Peran perempuan sebagian besar masih pada tahapan domestifikasi perempuan, dalam arti, mereka bukanlah aktor utama,” tutur Debbie dalam Perempuan Dalam Kelompok Jihadis dan Terorisme.

Bentuk kedua ialah sebagai ahli propaganda dan agen perekrutan. Pada kasus kelompok NIIS, karena perempuan dilarang ikut bertempur maka kemampuan mereka diarahkan sebagai ahli propaganda, pendakwah, dan perekrut anggota. Keberadaan media sosial membuat mereka semakin terlihat aktif. Mereka melakukan propaganda dan terhubung dengan para simpatisan melalui cuitan di akun-akun twitter, video-video berkualitas tinggi, majalah online, dan media sosial lainnya.

Bentuk yang terakhir yakni sebagai fighter/bomber atau pelaku. Kasus di Surabaya pada bulan Mei dan di Istana Negara dua tahun lalu adalah contoh nyata bentuk yang satu ini. Kelompok teroris yang mengatasnamakan Islam, saat ini cenderung menjadikan perempuan berkulit putih, atau apapun yang tidak mencirikan stereotip perempuan muslim sebagai pelaku. Perempuan non-Arab dan non-Asia Selatan memiliki kesempatan menyelinap dan melakukan serangan. Perempuan dijadikan martir juga dengan alasan mengecoh aparat yang masih menggunakan logika sosiologis yang menyatakan: mustahil seorang perempuan bisa melakukan serangan terorisme.

Akibat Ketimpangan Sosial

Direktur Eksekutif Rumah Kita Bersama (Rumah Kitab) Foundation Lies Marcoes Natsir memahami feno-mena keterlibatan perempuan dalam terorisme. Pertama sebagai fenomena ideologis. Menurutnya, mereka adalah orang yang menganut gagasan negara agama sebagai satu-satu pilihan maupun sebagai solusi atas ketimpangan sosial. Alih-alih menempuh jalur politik, kepedulian para perempuan ini terhadap ketimpangan, ketidakadilan, dan penderitaan justru disalurkan melalui organisasi radikal.

Kedua, fenomena ini merupakan respon atas pandangan dan sikap masyarakat yang meletakkan perempuan begitu rendah. Sebaliknya, di dalam kelompok radikal mereka merasa mendapat posisi sosial yang setara dengan laki-laki. Di kelompok barunya, para perempuan mendapat pengakuan kedudukan yang setara yaitu panggilan jihad.

Namun kenyataannya tetap saja kelompok ini melanggengkan ketim-pangan antara laki-laki dan perem-puan dalam gerakannya. Peran perem-
puan ditempatkan pada posisi domestik untuk melakukan “jihad reproduksi”, beranak-pinak, dan melayani kebutuhan laki-laki dalam kelompoknya. “Ini membuat mereka bangga karena dapat menyumbangkan rahim dan perannya sebagai istri atau ibu para patriot tentara Tuhan,” ujar Lies di laman resmi Rumah Kitab.

Ketimpangan yang melanda oleh perempuan meliputi banyak aspek. Analisis Edriana Noerdin dari Women Research Institue (WRI) melacak ketimpangan tersebut ada pada akses politik perempuan, akses perempuan terhadap pekerjaan, akses terhadap upah yang sama dengan laki-laki, akses terhadap tanah (lahan produktif), akses perempuan pekerja migran terhadap perlindungan hukum, akses layanan kesehatan reproduksi, akses pendidikan, alokasi anggaran untuk pemberdayaan dan kesejahteraan perempuan, serta beban kerja perempuan yang tinggi. 

Shared Post:
Idea Terbaru