'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Idea
Home » Idea
Sekolah ‘Aisyiyah Merespons Zaman
06 November 2019 09:06 WIB | dibaca 44
oleh: d

 

Cara menghadapi generasi Z di sekolah tentu berbeda dengan menghadapi generasi-generasi sebelumnya. Aris Nasution, Kepala Sekolah SD ‘Aisyiyah Nganjuk menyadari betul hal tersebut. Ia menjelaskan bahwa untuk menangani murid-muridnya yang termasuk dalam generasi Z perlu dipersiapkan lebih baik, terutama soal perhatian.

Aris mencontohkan, terjadi perubahan perilaku yang cukup signifikan pada anak-anak sekarang, maka salah satu hal yang harus difokuskan adalah perhatian pada anak-anak. “Di satu sisi, fasilitas (seperti gawai untuk berkomunikasi-red) yang didapatkan anak cukup baik, tetapi sayangnya tidak diimbangi dengan perhatian dari orang tua. Ada yang disebabkan salah dalam cara berkomunikasi, namun ada pula karena kesempatan berkomunikasi relatif turun,” terang Aris.

Melihat celah ini, Aris menilai bahwa sekolah perlu mengambil peran sebagai penutup kurangnya perhatian di rumah. Oleh karena itu, ia menekankan pada setiap guru di SD ‘Aisyiyah Nganjuk supaya lebih peka dalam melihat kondisi anak. Misalnya, ketika mereka mendapati anak didiknya mengalami perubahan sikap, maka guru perlu menanyakan kabar anak didik tersebut. “Misal di rumah sering mendapat kekerasan, di sekolah akan diajari supaya anak menjadi lebih lembut. Biasanya anak seperti itu, jika di rumah dikerasi maka di sini juga akan seperti itu,” terang Aris. Setelah dicari tahu, ungkap Aris, murid tersebut mengaku, jika salah sedikit ia dipukul oleh orang tua, “Kami cenderung tidak menyalahkan anak karena anak memang tidak salah.”

Pendekatan yang digunakan di SD ‘Aisyiyah Nganjuk kepada muridnya sangatlah personal. Jika permasalahan yang dialami murid berkaitan dengan orang tua, maka biasanya pihak sekolah akan menyampaikannya lewat forum. Jika urusannya sudah mengganggu dan sensitif, maka guru biasanya akan mengadakan kunjungan ke rumah wali murid dan berkomunikasi secara baik-baik agar tidak menyinggung perasaan wali murid.

Aris menjelaskan, SD ‘Aisyiyah Nganjuk bervisi cerdas, mandiri, terampil, soleh, dan solehah. Visi ini ia aplikasikan betul pada program-program dan kurikulum sekolah agar kebutuhan dunia dan rohani anak tercukupi. Aris mencontohkan, selain anak harus cerdas dalam akademik, anak juga harus cerdas dalam beribadah.

Selain mengedepankan pendekatan yang personal, SD ‘Aisyiyah Nganjuk juga memiliki beberapa program unggulan dalam meningkatkan kompetensi anak didiknya. Misalnya Pengajian Tunas Mentari yang rutin digelar oleh siswa-siswa kelas 5 dan 6 di rumah masing-masing. Aris menjelaskan bahwa pengajian ini secara keseluruhan, diurusi oleh murid-murid, mulai dari yang membuat undangan hingga yang mengisi tausyiah dengan tema kemuhammadiyahan. Di pengajian Tunas Mentari, beberapa guru ditugasi oleh sekolah untuk mendampingi pengajian dan memberikan tanggapan saat sesi tanya jawab.

“Program itu sukses sekali. Menga-pa? Karena 90% wali murid adalah orang-orang Nahdliyin. Kalau berbeda prinsip misal saat tanya jawab TBC, pertanyaannya seperti hukum ‘nyewu’ untuk orang yang sudah meninggal. Ya kami jawab sesuai dengan kepercayaan Muhammadiyah. Orang tua pasti mendengar tapi tidak mungkin marah karena yang bertanya anak-anak. Itu lah dakwah,” jelas Aris panjang lebar.

Selain mengadakan pengajian Tunas Mentari, SD ‘Aisyiyah juga rutin mendisiplinkan anak dalam kegiatan ibadah seperti salat wajib berjamaah, salat Dhuha berjamaah, dan program tahfidz Juz 30. Untuk program terakhir, guru-guru mendapat tugas untuk mengajar peserta murid sampai mereka benar-benar hafal satu juz terakhir dan siap diwisuda. Wisuda tahfidz ini diselenggarakan setiap dua kali dalam setahun. Terkadang, ada pula anak kelas 3 yang sudah bisa diwisuda karena hafalannya lebih dulu selesai.

Selain menekankan nilai-nilai rohani dan agama, SD ‘Aisyiyah juga tidak lupa memberi bekal keterampilan lain. Aris menjelaskan setidaknya ada 16 ekstrakurikuler di sekolah ini, antara lain ekstra memanah, renang, multimedia, fotografi, tapak suci, musik, electro, Arabic Club, dan English Club. Untuk program bahasa, SD ‘Aisyiyah Nganjuk membuat zona-zona bahasa di tempat-tempat tertentu. Aris mencontohkan misalnya, di teras depan adalah zona english maka semua sivitas SD ‘Aisyiyah harus berbahasa Inggris di zona itu. “Program ini masih baru. Jadi kita sendiri belum tahu seberapa besar keberhasilannya,” ujar Aris.

Selain itu, SD ‘Asiyiyah Nganjuk juga sedang belajar untuk melatih kemampuan tulis menulis bagi guru juga murid. Majalah sekolah bernama Megantee menjadi wadah untuk menyalurkan kemampuan dan bakat menulis tersebut. Aris menjelaskan saat ini 90% isi majalah masih dipenuhi dengan tulisan guru. Namun ke depannya, secara perlahan-lahan, murid akan mengisi 30% atau lebih dari keseluruhan majalah yang terbit empat kali selama satu tahun.

Aris sebagai kepala sekolah SD ‘Aisyiyah Nganjuk yang kini berakreditasi A menekankan betul arti kejujuran bagi para anak didiknya. Menurutnya, di era sekarang, anak harus dilatih menjadi pribadi yang jujur sehingga menjadi pribadi yang percaya diri dan secara tidak langsung akan timbul sifat kemandiriannya. 

Shared Post:
Idea Terbaru
Berita Terbaru