'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Idea
Home » Idea
Stress Menghadapi Ujian
02 Februari 2019 10:30 WIB | dibaca 70
oleh: Despita Pramesti M.Kes

 

Adanya kebijakan pemerintah untuk melaksanakan Ujian Negara (UN) menjadi beban bagi sebagian besar siswa. Mereka akan mengalami kondisi Stress dalam menghadapi UN tersebut dikarenakan kecemasan yang berlebih Sehingga diperlukan manajemen stress yang baik sebelum UN berlangsung UN benar-benar mengubah pola hidupnya dan cara pandang antar siswa/siswi tentang belajar. Belajar adalah kegiatan mengerjakan soal- soal yang akan dihadapinya di UN. Bukan seminggu, melainkan selama berbulan-bulan, sampai tiba waktunya UN datang dan kian menambah beban stresnya. Saat menjelang UN itu tidak ada passion learning di dalam dirinya, melainkan stress learning Siswa belajar dalam kondisi tertekan dan stres karena ingin lulus, bukan belajar dengan penuh semangat dan keceriaan.

Secara teknis psikologik, stress didefinisikan sebagai suatu respons penyesuaian seseorang terhadap situasi yang dipersepsinya menantang atau mengancam kesejahteraan orang bersangkutan. Di sisi lain, stressor adalah sumber yang dipersepsi seseorang atau sekelompok orang memberi tekanan atau cekaman terhadap keseimbangan diri mereka. Ada 3 sumber utama bagi stress, yaitu, pertama, Lingkungan. Lingkungan kehidu pan memberi berbagai tuntutan penyesuaian diri seperti antara lain: tekanan waktu saat ujian, standar prestasi yang harus dicapai, berbagai ancaman terhadap rasa aman dan harga diri untuk mencapai kelulusan. Kedua, Fisiologis. Perubahan kondisi tubuh seperti kelelahan saat belajar yang berlebihan, kurang gizi, dan kurang tidur. Ketiga, Pikiran kita : Pikiran menerjemahkan pengalaman dan antisipasi ke depan. Menurut Selye, stres bisa dibedakan atas dasar sifat stressornya, peristiwa negative, disebut distress. Tetapi bisa juga stress diakibatkan peristiwa positif, misalnya tiba-tiba mendengar mendapat beasiswa, atau hadiah besar yang tak terduga, dalam hal ini stresnya disebut eustress.

Sumber stressor tersebut bisa dibedakan dalam 3 bagian berdasarkan peluang penanganannya, yakni: Pertama, Stressor yang penanganannya hanya membutuhkan sedikit upaya, seperti misalnya kebiasaan belajar; waktu bangun pagi, diet, di mana upaya menanganinya dengan cara mengubah kebiasaan, membiasakan kebiasaan baru, maka dalam waktu satu dua minggu dapat berubah. Kedua, Stressor yang untuk menanganinya membutuhkan upaya yang lebih sungguh-sungguh, seperti contohnya soal kepercayaan diri, diperlukan bantuan teknikal untuk menanganinya, seperti, skill komunikasi, manajemen konflik. Ketiga, stressor yang memang tidak dapat ditangani sepeti kematian orang yang dikasihi. Maka penangan Seca annya, perlu belajar berdamai dengan diri menerima kenyataan tersebut, lalu diatasi dengan relaksasi, dan upaya spiritual.

Gejala Stress
Ada sejumlah gejala yang bisa diditeksi secara mudah yaitu : Pertama, Gejala Fisiologis, denyut jantung bertambah cepat, banyak berkeringat (terutama keringat dingin), pernafasan terganggu, otot terasa tegang, sering ingin buang air kecil, sulit tidur, gangguan lambung. Kedua, Gejala Psikologis, resah, sering merasa bingung sulit berkonsentrasi, sulit mengambil keputusan, tidak enak perasaan, atau perasaan kewalahan (exhausted) dsb. Ketiga, Tingkah Laku, berbicara cepat sekali, menggigit kuku, menggoyang- goyangkan kaki, gemetaran, berubah nafsu makan (bertambah atau berkurang).

Dampak Stres
Dampak stres dibedakan dalam 3 kategori, dampak fisiologik, dampak psikologik dan dampak perilaku, pertama, Dampak fisiologis, secara umum orang yang mengalami stres mengalami sejumlah gangguan fisik seperti, mudah masuk angin, mudah pening-hal pening, kejang otot (kram), mengalami kegemukan atau menjadi kurus yang tidak dapat dijelaskan, juga bisa menderita penyakit yang lebih serius seperti cardiovasculer, hypertensi, dst. Secara rinci dapat diklasifikasi sebagai maberikut, Gangguan pada organ tubuh seperti, otot tertentu mengencang atau melemah, tekanan darah naik, kerusakan jantung dan arteri, sistem pencernaan, mag, diare. Gangguan pada sistem reproduksi, amenorrhea, (tidak menstruasi), kegagalan ovulasi pada wanita. Gangguan pada sistem pernafasan, asma, bronchitis. Gangguan lainnya, seperti pening (migran), tegang otot, rasa bosan, dst
Dampak Psikologis, keletihan emosi, jenuh, Terjadi depersonalisasi; Dalam keadaan stress berkepanjangan, seir- ing dengan kelelahan/keletihan emosi.

Cara menangani stress
Untuk mencegah mengalami stres, setidaknya ada 3 lapis. Lapis pertama, dengan cara merubah cara kita melakukan sesuatu. Untuk keperluan ini perlu memiliki ketrampilan yang relevan, misalnya: mengatur waktu, menyalurkan, mendelegasikan, mengorganisasikan, menata, dst. Lapis kedua, strateginya menyiapkan diri menghadapi stressor, dengan cara olah raga, diet, rekreasi, istirahat, meditasi, dst. Lapis ketiga, strateginya menangani dampak stress yang terlanjur ada. Kalau diperlukan meminta bantuan jaringan supportif (social-network) ataupun bantuan profesional.

Menangani Stress: Ada banyak hal yang perlu dipelajari, yang ingin nidiketahui, ada banyak kegiatan yang ingin diikuti, waktu terbatas. Oleh karena itu, agar tidak menjadi stres, seyogyanya perlu memiliki berbagai ketrampilan belajar yang sesuai. Selain ketrampilan belajar, ketrampilan penting juga manajemen waktu, rehat (istirahat), karena tubuh memerlukan jedah, istirahat. Jangan lupa makan dan olahraga kebugaran. Cara mengatasi kecemasan ujian, yaitu biasakan diri dengan situasi ujian, dengan cara antara lain, kenali ruang ujian, belajar memadai, dan banyak berlatih sesuai tipe ujian (open- end, multiple choice atau yang akan di- hadapi. Kendalikan emosi, pikiran,dan tindakan).

Shared Post:
Idea Terbaru
Berita Terbaru