'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Profil
Kisah Sukses Alumni UNISA Menjadi Entrepreneur
17 Oktober 2019 11:15 WIB | dibaca 41
 
Awal mulanya saya mulai sejak saya kuliah di Diploma. Pada saat itu ada tugas matakuliah kewirausahaan untuk mendapatkan laba sebanyak-banyaknya dari modal yang seminim mungkin. Saat itu saya jualan masker yang harganya lima ribuan. Alhamdulillah saya mendapatkan untung lumayan,” ujar perempuan yang lahir di Klaten, 22 Agustus 1991 itu.

Lusinta yang biasa dipanggil Sinta ini memang sudah senang berjualan sejak kecil. Dahulu ia kerap diajak ibunya berjualan di tengah kondisi perekonomian keluarganya yang saat itu masih pas-pasan. Karena kondisinya itu, Sinta yang beralamat di Padan RT 004/002, Daleman, Tulung, Klaten, Jawa Tengah itu termotivasi untuk membahagiakan orang tuanya.

Perjuangan Sinta tak hanya berakhir di sana. Saat duduk di bangku SMA Sinta sudah mencoba berjualan pulsa dan es buah. Hingga saat kuliah Diploma, Sinta memutuskan untuk memulai berjualan hijab. “Waktu itu belum banyak yang berjualan hijab secara online. Saya melihat itu adalah peluang saya. Apalagi teman-teman kuliah saya kan mayoritas perempuan hampir semuanya suka berhijab. Karena itu saya mulai tertarik untuk berjualan hijab. Saya yakin insya Allah, Allah akan membantu saya,” ungkapnya.

Dalam memulai usahanya, Sinta berusaha terjun langsung ke Pasar. Sinta mulai mengumpulkan barang dagangannya yang diambil dari Jakarta. Sinta menjadikan dirinya sendiri sebagai model untuk menjual produknya.  “Jadi, begitu barang datang, saya pakai ke kampus, lalu temen-temen ba-nyak yang minat. Awalnya hanya order 1-2 pc, lalu meningkat menjadi 10 pc, lama-lama menjadi 20 pc. Hingga akhir-nya saya merasa berat di ongkos kirim. Hanya mendapatkan capeknya, sementara untungnya tidak banyak. Lalu saya mendapatkan ide untuk membuat hijab sendiri,” jelas Sinta.

Sinta menjelaskan, saat dirinya memutuskan memproduksi hijab sendiri dengan merk sendiri, ia memulai survei ke toko-toko kain untuk melihat bermacam-macam kain dan harga. Setelah membeli kain, ia mulai memotong-motong kainnya sendiri walaupun tidak memiliki ilmunya. Semuanya dilakukan Sinta secara otodidak. Sinta kemudian membawa kain-kain yang telah dipotongnya itu ke penjahit yang merupakan tetangganya sendiri. Usaha Sinta juga diniatkan untuk membantu para tetangga agar mendapatkan pekerjaan. 

“Jadi, ada banyak penjahit rumahan di kanan-kiri rumah saya. Ini sesuai dengan impian saya dulu: ingin mempunyai karyawan banyak, bisa memberi lapangan pekerjaan untuk orang banyak, sehingga bisa membantu sesama. Baru setelah jahitannya jadi, saya foto sendiri lalu dijual online.  Begitu seterusnya. Saya tekuni kurang lebih 1 tahun. Hingga akhirnya saya mempunyai penjahit sendiri di rumah karena saat itu peminatnya memang di luar dugaan saya,” papar Sinta.

Setiap hari minimal 400 pc hijab keluar dari tempat usaha Sinta karena memang Sinta Hijab kini menjadi tempat produksi langsung sehingga dipakai untuk kulakan-kulakan. Hingga tahun 2019 ini Sinta Hijab telah memiliki 179 reseller dan memiliki 7 penjahit yang ada di rumahnya. Sinta juga bekerja sama dengan 5 penjahit di sekitar rumahnya.  “Saya mempunyai karyawan admin 3 orang, tim quality control 1 orang, dan juga ada tim marketing.  Jadi, memang saat ini per divisi sudah ada orangnya sendiri-sendiri,” kata Sinta.

Membangun Sinta Hijab sampai sebesar ini bukanlah hal yang mudah bagi Sinta. 

Tulisan selengkapnya dapat dibaca di Majalah Suara 'Aisyiyah Eidisi 9 September 2019. Mari jadikan Majalah Suara 'Aisyiyah sebagai bacaan wajib bagi warga 'Aisyiyah.

Shared Post: