'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Profil
Pengislaman Suku Terasing di Pedalaman Sulawesi Tengah
22 November 2019 10:45 WIB | dibaca 82

 

“Ajaklah mereka memeluk Islam dan beritahu mereka apa-apa yang diwajibkan atas mereka yang berupa hak Allah di dalamnya. Demi Allah, Allah memberi petunjuk kepada seseorang lan-taran engkau, adalah lebih baik bagimu daripada engkau memiliki unta merah” (H.R. Bukhari)

Negeri di atas awan, begitulah kami menyebut Padang Kalang. Letaknya tidak tercetak di peta Indonesia dan belum tercatat di Google, itulah hasil yang kami temukan ketika melakukan pencarian pada dua penemu lokasi tersebut. Kali ini, sejarah tentang Padang Kalang akan digoreskan melalui cerita perjalanan dakwah terhadap suku terasing yang dilakukan ‘Aisyiyah Banggai.

Adalah OrangTaa’ sebutan bagi Tau Taa’ Wana yang berarti orang  yang tinggal di hutan, yaitu komunitas di pedalaman wilayah pegunungan Sulawesi Tengah. Suku ini berkomunikasi dalam Bahasa Taa’. Mereka bermukim di pegunungan-pengunungan sepanjang Kabupaten Morowali Utara, Kabupaten Banggai, dan Kabupaten Tojo Una-una, Provinsi Sulawesi Tengah.

Sebagaimana suku pedalaman di belahan bumi Indonesia yang lain, Orang Taa’ cenderung menutup diri dari pengaruh luar, hidup berpindah-pindah, dan menganut keyakinan animisme. Orang Taa’ hidup dalam kelompok-kelompok kecil dari satu garis keturunan, dan perkembangan jumlah kelompok hanya terjadi disebabkan karena kelahiran atau perpindahan antar  kelompok karena sebab perkawinan.

Dari gaya hidup mereka, Orang Taa’bisa dikategorikan dalam dua kelompok, yaitu kelompok Orang Taa’ primitif,  yakni mereka yang hidup nomaden bergantung pada alam, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, serta kelompok-kelompok Orang Taa’ yang sudah mau berinteraksi dengan dunia luar. Kelompok ini memiliki tempat bermukim yang tetap, namun cara berkebun kelompok ini juga masih berpindah-pindah lalu pada saat-saat tertentu mereka kembali dan menetap di dusun masing-masing.

Negeri di atas awan Padang Kalang adalah salah satu dusun Suku Tau Taa’ Wana. Secara geografis, dusun ini terletak di pinggul Gunung Tua, salah satu gunung di Kabupaten Morowali Utara. Dusun ini dibentuk pada tahun 2014 atas inisiatif Pak Paison sang Kepala Suku. Penghuninya berasal dari kelompok-kelompok kecil Orang Taa’ yang masih menganut gaya hidup nomaden serta berkeyakinan animisme, yang kemudian berkumpul untuk hidup menetap di Padang Kalang.

Perkenalan ‘Aisyiyah Banggai dengan Orang Taa’dimulai sejak akhir tahun 2015. Saat itu Pak Umar Basyir, muslim keturunan Suku Tau Taa’ Wana(dari garis keturunan ibu yang asli orang Taa’ dari Gunung Tua) yang berdomisili di Desa Winangabino Kecamatan Mamosalato Kabupaten Morowali Utara, memerlukan dukungan ‘Aisyiyah dalam proses pengislaman dan pembinaan Islam kepada warga Suku Tau Taa’ Wanadi Dusun Ngoyo. Keinginan Pak Umar yang kini menjadi komunikator antara ‘Aisyiyah dan Suku Tau Taa’ Wana itu disampaikan kepada kami melalui da’i pedalaman yang bertugas di Morowali Utara.

Kami kemudian menyahuti keinginan mulia itu dan bersama Pemuda Muhammadiyah Banggai merencanakan untuk bersilaturrahmi ke Desa Winangabino sekaligus melaksanakan prosesi pengislaman. Setelah seminggu mempersiapkan pengadaan bantuan yang akan disumbangkan, pada akhir bulan Desember 2015, dengan semangat gerakan al-Ma’un, berbekal sembako, mukena, sarung, baju koko, dan sedikit dana untuk disumbangkan, bergeraklah 2 pengurus anggota Majelis Tabligh dan Majelis Kesejahteraan Sosial ‘Aisyiyah Banggai bersama 2 orang pengurus Pemuda Muhammadiyah dan da’i pedalaman menuju Desa Winangabino. Desa di kaki Gunung Tua ini termasuk salah satu desa di Kecamatan Mamosalato Kabupaten Morowali Utara.

Perjalanan dilakukan selama kurang lebih 8 jam untuk sampai di Desa Winangabino. Enam jam dilakukan dengan kendaraan mobil. Lalu, karena medannya berat berupa tanjakan tinggi dengan pijakan tanah yang labil, perjalanan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki 5 km lagi dalam waktu 2 jam.

 

Menurut penuturan Pak Umar, pengislaman orangTaa’sejumlah 17 muallaf di Ngoyo kali itu adalah pengislaman yang kedua kalinya. Beberapa bulan sebelumnya, pengislaman pertama sejumlah 21 muallaf  dilaksanakan di Padang Kalang bersama da’i pedalaman. Tidak banyak yang bisa kami perbuat terhadap muallaf OrangTaa’Ngoyopada waktu itu kecuali pembekalan tauhid dan fiqih seadanya dalam waktu yang sangat terbatas. Oleh karena lokasi yang sulit dijangkau, dan banyak keterbatasan lainnya,  pembinaan kami harapkan dilanjutkan oleh Pak Umar dan istri dibantu da’i pedalaman yang sesekali berkunjung.

Secuil upaya pembinaan jangka panjang yang bisa dilakukan saat itu adalah memberikan dorongan kepada anak-anak Suku Tau Taa’ Wana usia sekolah untuk melanjutkan pendidikan gratis di sekolah-sekolah Muhammadiyah Cabang Toili, yaitu amal usaha pendidikan Muhammadiyah yang terdekat, sekaligus menjadi anak asuh di rumah-rumah pengurus ‘Aisyiyah Cabang Toili. Minimnya pemahaman tentang pentingnya pendidikan bagi Orang Taa’ membuat minat untuk bersekolah juga masih minim. Saat ini baru ada 3 anak dari masyarakat pedalaman yang terdaftar di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Toili.

Berbekal pengalaman pengislaman Orang Taa’ dari Dusun Ngoyo tersebut, serta niat tulus mensejahterakan dan meningkatkan harkat hidup masyarakat Suku Tau Taa’ Wana di sekitar Gunung Tua, kami lalu berinisiatif mendirikan dusun muslim lainnya. Pilihan kami jatuh pada komunitas Orang Taa’ yang berdiam di Dusun Padang Kalang. Pertimbangannya adalah dusun ini yang agak mudah dijangkau jika dibandingkan dengan yang lainnya sehingga memudahkan kami untuk pembinaan selanjutnya. Maka dengan pendekatan kekeluargaan, syiar Islam berhembus dari hari ke hari. Atas kehendak Allah swt, prosesi pengislaman pertama terhadap Orang Taa’dari Dusun Padang Kalang kami laksanakan di masjid Desa Winangabino pada tanggal 18 Desember 2017, ba’da ashar terhadap 25 muallaf, termasuk Pak Paison, sang kepala suku. Pengislaman pertama muallaf dari Dusun Padang Kalang ini disaksikan pejabat pemerintah kabupaten yang dihadiri oleh Wakil Bupati Morowali Utara dan tokoh agama setempat.

Seminggu kemudian sebagian Orang Taa’ Padang Kalang yang lain menyatakan keinginan mereka untuk menyusul saudara-saudara mereka yang sudah lebih dahulu menjadi muslim. Sekaligus meluluskan permintaan mereka untuk mengunjungi kota asal kami, maka prosesi pengislaman kedua Padang Kalang ini berbeda dengan pengislaman sebelumnya. Kali ini, calon-calon muallaf kami mobilisasi ke Luwuk.  Prosesi pengislaman kami laksanakan di Luwuk, tepatnya di kampus 2 Universitas Muhammadiyah Luwuk pada tanggal 25 Desember 2018. Sejumlah 33 calon muallaf kami jemput bersama 25 muallaf terdahulu untuk mendapatkan pembekalan keislaman selama seminggu di Luwuk, ibu kota Kabupaten Banggai.

Allahu Akbar! Ketika Allah berkehendak maka tak satu pun makhluk mampu menahan. Hidayah ini mengalir tak terbendung. Satu bulan kemudian, Suku Taa Wana dari Kabupaten Tojo Una-una yang masih merupakan garis keturunan orang Taa’ dari Gunung Tua, dengan kehendak Allah menyatakan diri ingin mengikuti jejak saudara-saudaranya dari Morowali Utara untuk menjadi muslim di Luwuk. Cerita pengislaman saudara-saudara mereka di Luwuk menjadi daya tarik luar biasa. Penjemputan 80 puluh calon muallaf dipersiapkan untuk melakukan prosesi pengislaman yang kami laksanakan pada tanggal 4 Februari 2018 dan pembekalan keislaman selama 4 hari di  Kampus 2 Universitas Muhammadiyah Luwuk.

Saat ini negeri di atas awan, Padang Kalang, dihuni oleh 25 kepala keluarga, dengan 58 orang muslim. Masih sepertiga penduduknya lagi yang pelaksanaan prosesi pengislamannya insya Allah menyusul dalam waktu dekat. Semoga Allah meridhai.

Karena makin bertambahnya jumlah Orang Taa’ yang mendapat hidayah, maka perlu penanganan yang lebih baik dan terorganisir. ‘Aisyiyah Banggai kemudian berkonsentrasi pada pembinaan muallaf Orang Taa’  di Gunung Tua dan sekitarnya yang tercatat berjumlah 96 muslim. Adapun 80 muallaf asal Kabupaten Tojo Una-una, kami serahkan pembinaanya kepada  PD ‘Aisyiyah  Tojo Una-una.

Keinginan untuk meningkatkan program pembinaan keislaman di Padang Kalang dan sekitarnya secara intensif, masih berupa niat mulia sampai saat kami membuat tulisan ini.  Kondisi alam serta baik buruknya kondisi jalan setapak menuju Padang Kalang dari Desa Winangabino yang sangat bergantung dengan cuaca dan hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki selama 10 jam, membuat upaya kami untuk bisa melakukan tabligh belum maksimal. Selain itu, pendirian Sekolah Alam untuk program prioritas bidang pendidikan yang sedang dalam proses administrasi tidak selancar yang kami harapkan karena Desa Winangabino belum tersentuh jaringan telepon seluler. Hal lain seperti pendirian mushala, kehadiran da’i  pedalaman, adalah hal yang tidak kalah pen-tingnya untuk diwujudkan disamping rumah layak huni dan ketersediaan air bersih.

Terlepas dari segala rintangan, syiar Islam harus tetap berjalan dan upaya-upaya pembinaan secara terorganisir tetap harus berlanjut. Oleh karena itu, untuk perpanjangan tangan pembinaan kami berencana untuk mendirikan Pimpinan Ran-ting Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Desa Winangabino. 

Shared Post: