'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Profil
Siswojo, Miniatur Pengusaha Muhammadiyah
17 Oktober 2019 11:23 WIB | dibaca 22
 
 
Marmin Siswojo, nama lengkap Sis, saat itu, merupakan seorang guru SD dengan gaji pas-pasan atau cukup untuk hidup 3 minggu saja, sedangkan kala itu ia sudah mempunyai 2 orang anak. Sis bertekad mencari tambahan pendapatan dengan tetap menjadi guru dan memanfaatkan waktu luang. Ia pun mencoba usaha menjahit  tetapi tidak juga cocok. Namun sejak membaca artikel dari majalah yang dipinjamnya dari tetangga, ia berniat mencoba,  “Saya mulai dari 1 ekor ayam, saya praktikkan, dan ternyata berhasil,” ujar Sis sumringah. Semangat berwirausaha Sis makin besar. Ia bersama istri akhirnya memilih untuk berwirausaha dibanding membangun rumah, sebuah pilihan yang tidak mudah. 

Dari rumah bekas kandang sapi berukuran 4x6 hasil pemberian kakak iparnya, Sis memulai usaha pada tahun 1971. Peruntukan rumah berukuran 4x6 pun dibagi dalam kotak-kotak, ada yang digunakan Sis untuk memelihara ayam usia tertentu, sedangkan sisi rumah yang lain digunakan untuk memelihara ayam yang lahir di usia yang berbeda, dan demikian seterusnya. Rumah yang kini meluas tersebut masih ditinggalinya sebagai saksi perjalanan hidupnya. Sis kemudian membentuk Koperasi Produksi Peternak Unggas Sejahtera. Selama tiga tahun, ia baru memiliki 40 ekor ayam petelur.

Di tahun itu pula, Sis berkesempatan mengikuti kursus di Balai Peternakan Grati Pasuruan yang meningkatkan kemampuan Sis dalam produksi. Hadiah ayam berusia 2,5 bulan sebanyak 50 ekor berhasil didapatnya setelah tampil menjadi juara 1. Koperasi yang dikelolanya pun semakin maju, bertambah anggota koperasi, dan koperasi telah dapat menampung 400 kg telur setiap minggunya. Pada 1976, kerja kerasnya mulai berbuah manis, Sis yang saat itu baru berusia 37 tahun sudah mendapat penghargaan dari Gubernur Jawa Timur yang telah berkunjung ke rumahnya, sebagai pionir dalam pembangunan peternakan. Di tahun yang sama, Sis lagi-lagi mendapat kepercayaan untuk mewakili Jawa Timur mengikuti demo Plot Perunggasan di Cisarua Bogor. Kali ini Sis meraih juara II karena juara 1 berhasil diperoleh Idham Samawi, rekan sejawatnya selama mengikuti demo plot yang kemudian sempat menjadi bupati Bantul dua periode.

Keberhasilan Sis diperolehnya dari kerja keras dan bekerjasama dengan istrinya. Sis menggambarkan, “Saya sendiri harus bekerja keras sehari semalam sekitar 16 jam, mulai pukul 04.30 sampai 20.30, pagi membantu keluarga, mengajar, dhuhur sampai malam saya gunakan untuk me-ngurusi ayam.” Kerja keras dan kejujuran memang menjadi prinsipnya dalam berwirausaha. Laki-laki yang tinggal di Jatinom ini punya mimpi jika nantinya terdapat truk masuk desa Jatinom untuk mengusung telur.

Dalam berwirausaha, Sis tidak ingin berkembang sendiri. Ia justru mengembangkan kemitraan atau berjamaah dalam berbisnis. Tokonya diberi nama “Jatinom Indah Poultry Shop” (JIPS). Pada tahun 1980 atau nyaris 10 tahun sejak ia memulai usaha, plasmanya telah berkembang hingga berjumlah 650 peternak dengan rata-rata kepemilikan ayam 50 hingga 1000 ekor. Dalam mengembangkan hubungan inti-plasma, Sis menerapkan betul prinsip kejujuran. Setiap datang ke toko JIPS, peternak dapat berkonsultasi sepuasnya tanpa ada ilmu yang disembunyikan Sis. Dua tahun setelahnya, 1982, usaha yang dikelolanya bersama para peternak dapat menampung telur hinga 8 ton per hari.

Kini, mimpi Sis pun telah menjadi kenyataan. Lebih dari mimpinya, truk membawa telur tidak saja keluar dari desa Jatinom, tetapi truk-truk itu keluar dari kabupaten Blitar dengan membawa 450 ton telur atau kurang lebih 110 truk per hari. Dari skala desa berkembang hingga kabupaten, bahkan Blitar kini dikenal sebagai kabupaten penyuplai telur di Jawa Timur.

Dari bisnis telur, usaha keluarga Siswojo merambah bisnis ayam pedaging. Bermula dari tawaran Mc Donald untuk me-
nyuplai daging ayam ke restoran cepat saji tersebut yang sempat mengejutkan Siswojo dan anak-anaknya karena disangka akan diminta menyuplai telur. Dalam kamus berwirausaha Siswojo, tak ada kata menolak agar konsumen menaruh kepercayaan. Tawaran awal McDonald pun diterimanya dan keluarga Siswojo segera membuat tim kerja. Tentu tak sembarang suplier dipercaya oleh resto makanan cepat saji bereputasi perusahaan multi nasional itu, sehingga selama beberapa tahun perusahaan keluarga Sis menyuplai daging ke semua Mc Donald di Jawa Timur.

Dari satu perusahaan ‘Jatinom Indah’, kini perusahaan tersebut telah berkembang hingga melahirkan perusahaan-perusahaan yang lain. Bersama anak-anaknya yang kini menjadi motor penggerak bisnis keluarga, Siswojo telah mengembangkan bisnis menjadi dua kategori, yaitu peternakan ayam dan penunjangnya serta pengembangan bisnis bidang lain. Dari bisnis peternakan ayam dan penunjangnya, bisnis keluarga Siswojo telah merambah bisnis peternakan ayam petelur, pabrik pakan ternak, breeding farm burung puyuh, poultry shop, perdagangan bahan baku makanan ternak, hingga rumah potong ayam. Sedangkan bisnis di luar peternakan yang ditekuni keluarga Siswojo, mulai dari dealer Yamah, peternakan sapi potong, pupuk organik, mesin peternakan, hingga breeding farm ayam kampung potong super, breeding farm itik pedaging   dan itik petelor, hingga menjadi agen nugget Fiesta. Meski begitu, keluarga Siswojo tetap menekuni bisnis ayam petelur yang mengawali perjalanan panjang bisnisnya.

Siswojo pun membagi tips dalam berwirausaha. Ia menjelaskan, terdapat tiga tahap yang dilaluinya dalam berbisnis ayam, pertama, Fase Kita untuk Ayam, yaitu fase awal memulai usaha, atau jurus Arjuno Memanah. Penamaan itu diperoleh Sis dari dosen senior ekonomi Universitas Brawijaya Malang yang menjadi konsultannya. Kedua, Fase  Ayam untuk Ayam. Dalam fase ini, tidak dilakukan penambahan dana atau modal sehingga target tercapai, dan menunda kesenangan denga menerapkan teori pemisahan uang kasir dan uang kasur. Ketiga, Fase Ayam untuk Kita. Pada fase ini telah menuai hasil, namun ibarat tertawa, jangan terbahak-bahak dan sisihkan sebagian keuntungan sebagai cadangan. Inilah jurus unta, Sis mengingatkan agar manusia tidak kalah dengan unta yang selalu menyimpan cadangan dalam tubuhnya.

Dalam berbisnis, Sis memang menerapkan berbagai jurus yang diambilnya dari pembelajaran pada makhluk Allah seperti binatang dan tanaman. Mulai jurus Jerapah, jurus elang, jurus kucing, jurus unta, jurus semut, jurus kunang-kunang, jurus Lumba-lumba atau menumbuhkan simpatik dalam lingkungan, hingga jurus ikan paus, yaitu belajar dari kehidupan paus yang diikuti ribuan ikan-ikan kecil untuk membersihkan makanan yang terdapat pada gigi paus sebagai makanannya sehingga ikan kecil dapat berkembang biar. Dalam hal ini, menurut Sis, pengusaha dapat memberi pekerjaan kepada pedagang-pedagang kecil, seperti pupuk, sak, usus, bulu, katul, dsb.

Salah satu jurus yang diterapkannya adalah jurus pisang, “sebelum buah pisang masak, anak-anak pisang sudah siap menggantikan pohon induk. Berilah kesempatan dan kepercayaan pada generasi penerus agar setelah kita tiada usaha kita masih berkelanjutan, bukan tinggal cerita bahwa orang tua pernah sukses,” terang Sis. Jurus pisang ini telah berhasil dipraktikkannya pada anak-anaknya. Pada anak-anaknya, laki-laki dengan enam anak ini, memberikan kesempatan dan kepercayaan untuk menjalankan roda usahanya.

Tanpa tedeng aling-aling, Siswojo justru menyerahkan estafeta pengelolaan usaha pada anak-anak saat bisnisnya terdampak krisis ekonomi tahun 1998. Saat krisis, para peternak ayam gulung tikar karena harga pakan impor melambung tinggi dan tidak sesuai dengan harga jual telur saat daya beli masyarakat menurun. Tetapi Siswojo dan anak-anaknya bekerja keras mengatasi krisis dengan menjual ayam tidak produktif serta mengalihkan sisa aset untuk membeli aset yang lain termasuk sapi yang kemudian menguntungkan bisnisnya ke depan.  Menurut Siswojo, jika anak-anaknya mampu mengatasi ujian krisis ini, maka langkah selanjutnya akan lebih mudah. Benar saja, anak-anaknya dengan dampingan Siswojo berhasil melewati krisis ekonomi. Sis sendiri memang yakin bisnisnya akan pulih kembali karena telur selalu dibutuhkan masyarakat.

Hasilnya, kini anak-anak Siswojo telah berhasil meneruskan dan mengembangkan usaha yang dirintis ayah dan ibunya. Kaderisasi serupa dilakukan pula oleh Sis dalam konteks mengge-rakkan Muhammadiyah. Anak keduanya, Hidayat, kini dipercaya sebagai Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Blitar. Sedangkan menantu perempuannya, Heni, didaulat menjadi Ketua Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Blitar.

Siswojo dan istrinya tak semata menjadi pengusaha. Ia dan istrinya adalah aktivis penggerak Muhammadiyah-‘Aisyiyah di Blitar. Berkat inisiatifnya pula, Muhammadiyah-‘Aisyiyah Kota dan Kabupaten Blitar yang semula menjadi satu, telah berkembang masing-masing sesuai daerahnya, sehingga terdapat PDM-PDA Kota Blitar dan PDM-PDA Kabupaten Blitar. Satu periode sebagai Ketua PDM Kota Blitar pada 2000-2005 dan Heni sebagai Ketua PDA Kota Blitar di tahun yang sama. Sebagai inisiator berdirinya PDM dan PDA Kabupaten Blitar, Siswojo selanjutnya didapuk sebagai Ketua PDM Kabupaten Blitar dua periode, 2005-2010 dan 2010-2015. Demikian pula istrinya yang menjadi  Ketua PDA Kabupaten Blitar dua periode yang sama.

Perkenalan dengan Muhammadiyah sejatinya diawali Siswojo sejak masa bujang. Ia sendiri merupakan kader inthilan atau kader yang selalu ikut dengan seorang tokoh Muhammadiyah bernama Hamim. Bersama Pak Hamim, ia diajak menonton bioskop atau semacam layar tancap maupun mencari ikan di sungai dengan syarat asalkan sholat tepat waktu. Cara yang menyenangkan dalam berdakwah dari dari sosok Hamim terekam dengan baik dalam ingatan Sis.  Sis muda juga turut membantu pendirian mushola, menginisiasi shalat di lapangan, dan berdakwah memanfaatkan mushola yang ada. Semangat berdakwah terus tumbuh dalam sosok Sis. Meski tidak menempuh pendidikan pesantren, semangat belajar agamanya tinggi. Pengetahuan agama terus diasah lelaki yang dikenal tekun beribadah ini antara lain dengan membaca pemikiran tokoh yang dikaguminya seperti Buya Hamka termasuk produk tafsir al-Azharnya dan majalah Panji Masyarakat. (HNS)

Tulisan selengkapnya dapat dibaca di Majalah Suara 'Aisyiyah Eidisi 9 September 2019. Mari jadikan Majalah Suara 'Aisyiyah sebagai bacaan wajib bagi warga 'Aisyiyah. 

Shared Post:
Arsip
Profil Terbaru
Berita Terbaru